Kamis, 05 Agustus 2010

ADVOKAT HUTAN



Surabaya, 2 Agustus 2010

”Ini hutanku! Angkat kakimu dari sini! Tidak usah lewat! Cari jalan lain! BANGSAT!” dia marah-marah pada satu pahlawan yang lewat cari jalan pintas.

matanya melotot murkanya merah terbakar amuk
taringnya menyeringai memanjang dengan liurnya yang semakin menetes
lantang menggeram melolong kencang bikin nyali jadi ciut
serta menyerta kuku tangannya semakin panjang siap menerkam

tak kenal iba
tanpa ampun
tidak pakai kasihan

”Kamu yang menyingkir, Binatang! Belum pernah rupanaya kamu menyicipi hantaman saktiku. Sekali kamu coba, amblas nyawamu. Tugasku lebih jauh penting daripada hidupmu. Minggir, Keparat busuk!” begitu pisuhan si pembela kebenaran.

LHAP DAR! LHAP DAR! LHAP DAR!

pertarungan sengit tak imbang terlanjur
sang ksatria main curang. memakai semua jimat dan ilmu
si pahlawan tak sempat mengenal seluk si liar

si liar tak peduli siapa lawannya
tak berpaling biar tanpa sakti
modalnya berani

langsung hajar – terkam – bacok – bantai
senjatanya sebilah belati saja
memang sudah karatan tapi justru menakutkan

belati disabet, ditendang ksatria
belati mental, ditangkap ksatria
belati di ksatria
dihujam masuk ke perut si liar
dikoyak-koyak, ditancap lagi ke dada, diporak-poranda
Hancur!

sambil bersanding ajal, si liar bercerita

dia cuma dikenal sangat seram yang sangar
begal kelas teri tapi tanpa aji-aji
semua yang melintas pasti dirampok tanpa ampun
tak peduli petani sampai pendekar ksatria, dijarah habis-habisan

dia diwujud seekor manusia buruk rupa
bertaring-taring tajam nyathis
mukanya merah padam menyala
sang preman hidup di belantara
pintar sekali berkelahinya
garong yang lincah di darat juga waktu sambil manjat pohon

profilnya begitu,
toh tidak pernah menjarah
sosoknya memang diseramkan,
toh tidak pernah membunuh

dia cuma dipasrahi menjaga ibu bumi
tanggung jawabnya memelihara pepohon biar langgeng lestari
di pundaknya supaya hutan tidak alih fungsi

dia mencoba mengumpulkan sisa tenaga
sambil sekarat yang nafasnya tersengal
Cakil bicara
”kenapa kok kamu tidak mau pergi dari hutanku?”

bicaranya habis
nyawanya putus
gara-gara mukanya jelek
mampus sang advokat hutan

Tidak ada komentar:


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com