Minggu, 27 Desember 2009

Jurnalis Surabaya Dukung Kebebasan Berekspresi



Puluhan jurnalis seSurabaya Kamis 914/12) turun ke jalan mendukung kebebasan berekspresi. Para jurnalis yang menamakan dirinya Aliansi Pro Kebebasan Berekspresi merupakan gabungan dari jurnalis cetak, elektronik, maupun on-line di Surabaya, berunjuk rasa di pereempatan jalan Gubeng Pojok.

Dalam orasinya, Andreas Wicaksono, koordinator aksi, mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menggunakan pasal 27 Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronika tentang pencemaran nama baik. Dalam pasal ini, terlapor bisa dikenai hukuman kurungan maksimal 6 tahun. Karena ancaman hukuman lebih dari 5 tahun, menurut KUHAP, maka tersangka bisa ditahan.

Selain itu, para jurnalis mendukung kebebasan berpendapat di masyarakat apapun bentuknya. “Kalau ada masyarakat yang tidak suka dengan statemen tertentu di sebuah situs jejaring sosial di internet, balas saja dengan hal yang sama. Apa untungnya melaporkan ke polisi?” seru Dony, salah satu pengunjuk rasa yang berorasi.

Aksi ini diakui Andreas terkait dengan dilaporkannya akstris Luna Maya ke polisi oleh pekerja infotainment. Tapi jurnalis berkaca mata ini menolak aksinya mendukung Luna maya. “Kami mendukung kebebasan berekspresi apapun bentuknya karena UUD 1945 jelas menjamin itu. Maka pemerintah harus juga menjaminnya dengan mencabut pasal pencemaran nama baik dalam UU ITE,” seru Andreas.

Aksi juga diwarnai dengna pembacaan pernyataan sikap para jurnalis. Setelah itu aksi ditutup dengan membagikan seruan pada para pengguna jalan.

Senin, 21 Desember 2009

GESANG, NASI BUNGKUS, API

Surabaya, 7 Desember 2009

Ini Gesang dan satu istri dan anak-anaknya...

Ini mereka bikin nasi bungkus dan kue-kue
tekun tiap harinya mulai lampau sampai ini.

tekun sekali!
malam masak sampai subuh
pagi berlayar kota
jaja nasi dan jajan
receh sedikit coba ditumpuk terus

biar pelan, biar saja, Gesang senang

berdarah-darah di bedaknya,
keringatan anak-anak sekolah
tapi tak nangis air mata

Gesang kuat
istrinya sigap
anak-anak tulus

itu kemarin
masih ada

hari ini ada police line
bedak Gesang lantak dimakan api

Gesang terpanggang
istrinya tewas
anak-anak gosong

api makan Gesang.
Gesang memang dia beda
ada yang tidak suka

GESANG, NASI BUNGKUS, API

Surabaya, 7 Desember 2009

Ini Gesang dan satu istri dan anak-anaknya...

Ini mereka bikin nasi bungkus dan kue-kue
tekun tiap harinya mulai lampau sampai ini.

tekun sekali!
malam masak sampai subuh
pagi berlayar kota
jaja nasi dan jajan
receh sedikit coba ditumpuk terus

biar pelan, biar saja, Gesang senang

berdarah-darah di bedaknya,
keringatan anak-anak sekolah
tapi tak nangis air mata

Gesang kuat
istrinya sigap
anak-anak tulus

itu kemarin
masih ada

hari ini ada police line
bedak Gesang lantak dimakan api

Gesang terpanggang
istrinya tewas
anak-anak gosong

api makan Gesang.
Gesang memang dia beda
ada yang tidak suka

Jumat, 27 November 2009

Kurelakan Alsya Pergi ...



Semua berawal dari tabiat mas Nanang yang suka main tangan kalau cemburunya kumat. Sedah sejak masa pacaran dulu, dia suka marah-marah ke aku. Rasa cemburunya kepadaku sangat besar. Inikah gerangan cinta, ataukah aku buta poleh suara merdu mas Nanang yang berprofesi pengamen?

Yang jelas hubunganku dengan mas Nanang sudah ditentang bapak ibu dan semua saudaraku bahkan sejak aku pacaran. Kalau kupikir-pikir alasannya masuk akal juga. Mas Nanang suka mabuk-mabukan dan badannya penuh tatoo. Untuk itu aku yang masih berusia 17 tahun, kawin lari dengan mas Nanang yang berpaut 7 tahun, dengan nikah siri. Sejak kenekatanku itu, keluarga lepas tangan dan tidak mau tahu semua perkara yang menimpaku.

Sejak kujalani bahtera rumah tangga bersama mas Nanang, hampir tiap hari kami bertengkar. Ujung-ujungnya tangan mas Nanang yang bicara. Alasannya bukan soal keuangan. Cemburu pada suami kakakku.

Menurutku, ceburunya sangat tidak jelas. Betapa tidak, selama dua tahun menikah setelah ia berangkat ngamen jam 7 pagi, mas Nanang selalu menyuruhku untuk mengunci diri dalam kamar kos di lantai dua di Kendung Mangu 31, milik bu Maryam. Lagipula aku takut bertemu laki-laki lain. Jadi ya kuturuti saja. Dengan kondisi ini, aku jadi tidak mengenal tetanggaku selain yang di kos-kosan.

Aku masih ingat pertengkaran hebat itu. Rabu dini hari 25 November 2009 setelah mas Nanang pulang ngamen dan pesta miras dengan teman-temannya sesama pengamen.

Seperti biasa mas Nanang menutup kamar tiap bertengkar dengan aku. Sambil kudekap Elsya, aku yang sudah tidak tahan dengan pukulan dan tamparannya, merintih minta tolong karena tidak tahu lagi harus apa. Mbak Dewi dan bu Supa’ati, tetangga kos, sebenarnya ingin mencoba menolong tapi tidak bisa masuk karena kamar dikunci mas Nanang.

Tapi akhirnya aku berhasil kabur dari kamar dan segera turun ke bawah. Kebetulan ada becak yang melintas, lalu kuminta pak becak itu untuk melesat ke kawasan Karang Empat, ke rumah kakakku. Aku berencana mengungsi ke sana.

Seperti disambar petir, tiba-tiba becak yang kutumpangi terguling. Sebelumnya memang kudengar teriakan mas Nanang yang tampak kalut luar biasa. Dia menyuruh pak becak untuk berhenti. Suasana saat itu memang mencekam dan seram.

Mas Nanang lompat dan mengerem becak, lalu menarik kemudi bencak. Kontan becak yang kutumpangi terguling.

Tangis Alsya yang baru berumur 1 bulan di dekapanku tiba-tiba hilang. Kepala mungil Alsya terhimpit badanku yang terjatuh dari becak dan langsung bertatapan dengan aspal jalanan. Seketika itu pula nafasnya tersengal-sengal dan kejang. Tangisnya mendadak hilang. Bola matanya membalik dan perlahan tubuhnya meregang. Alsya pergi dalam dekapanku di malam yang ngilu itu.

Di keremangan malam, beberapa bagian tubuhnya tampak memar, terutama lengan mungilnya. Yang membuat aku hancur jadi serpihan adalah tempurung kepalanya pecah karena tertimpa badanku. Kata dokter forensik di RSUD dr Sutomo, Alsya meninggal karena kehabisan nafas akibat tekanan yang hebat. Kepalanya yang pecah juga menjadi sebab utama kematiannya.

Sakit hatiku makin meradang waktu mas Nanang memintaku untuk mencabut laporan KDRT yang kusampaikan pada polisi di Polsek Kenjeran. ”Dik, lepehen laporanmu ben aku iso bebas,” kata mas Nanang seolah tanpa beban.

Gak sudi! Aku wis gak mikiri awakmu. Aku mikir anakku. Arep tak makamno nang ndi? Aku gak duwe duwik,” jawabku ketus

Awalnya aku agak risih waktu beberapa wartawan berusaha mengambil gambarku dan menanyaiku secara bertubi-tubi, ketika aku keluar dari ruang penyidik. Langsung saja aku ngeloyor pulang jalan kaki nyeker, dari polsek ke kos-kosanku.

Setelah aku mandi dan menenangkan diri di kos, tiba-tiba aku dikagetkan dengan kedatangan beberapa orang yang tidak aku kenal. Mereka datang membawa sejumlah uang dalam amplop. Aku heran bercampur gembira. Heran karena tidak tahu apa yang terjadi, dan dari mana orang-orang itu tahu kalau aku memang butuh uang untuk pemakaman Alsya.

Gembira karena Alsya bisa segera kujemput untuk kumakamkan. ”Allahu akbar! Alhamdulillah” seruku dalam hati.

Tak lama, beberapa wartawan yang tadi mengejarku di polsek datang ke kos-kosanku. Entah mengapa sekarang aku agak bisa menerima kedatangan mereka. Mereka bertanya tentang kronologis kejadian dini hari tadi sampai mengenai tabiat mas Nanang. Semua kuceritakan secara gamblang. Termasuk sikapku yang bersyukur atas penahanan mas Nanang oleh Polsek Kenjeran. Dari situ terkuak penjualan Elsya oleh mas Nanang.

29 Oktober 2009, saat usia Elsya sudah menginjak 1,5 tahun. 21 hari setelah kelahiran Alsya di RSUD dr Suwandhie. Aku menyetujui ide mas Nanang yang akan menitipkan Elsya ke tetangga depan kos. Di rumah tetangga itu, kami disuruh tanda tangan di selembar halaman kosong dalam sebuah buku tulis. Secara lisan, kami disuruh berjanji tidak akan mengambil Elsya untuk selama-lamanya.

Belakangan baru aku tahu kebejatan mas Nanang yang menerima uang Rp 1.000.000,- dari orang itu. Sampai sekarang, aku tidak pernah melihat wujud uang itu apalagi membelanjakannya untuk keperluan rumah tangga.

Apalagi di tivi dan koran, mas Nanang bilang kalau uang itu untuk biaya persalinan Alsya. Mas Nanang kelihatan bohongnya. Padahal di juga tahu kalau biaya kelahiran Alsya memakai Jamkesmas yang berarti gratis.

Tapi ternyata mas Nanang lebih menyintai uang itu ketimbang keluarganya. Secepat kilat uang sebanyak itu dihabiskan untuk pesta miras bersama teman-temannya.

Dengan uang sumbangan dari sejumlah warga Surabaya, akhirnya aku bisa menjemput jenazah Alsya di ruang jenazah RSUD dr Sutomo dan memakamkannya di makam Rangkah Besar. Aku masih cukup tegar waktu menerima jasad Alsya yang sudah dikafani dari petugas kamar jenazah. Bahkan aku masih bisa menjawab beberapa pertayaan wartawan di kantor makam sembari menunggu makam digali.

Tapi hatiku kembali hancur saat jasad mungil Alsya diturunkan ke makam. Apalagi waktu pak modin membacakan adzan dan doa. Aku tak kuasa menahan air mataku. Di makam, cuma bu Supa’ati yang menemaniku. Aku hanya bisa jongkok sambil berlinangan air mata membayangkan wajah ganteng Alsya di makam yang sudah ditutup tanah itu.

Besoknya aku kembali kedatangan beberapa tamu. Di antaranya mas Sholeh yang mengaku berprofesi pengacara. Dia berniat memberi pendampingan hukum secara gratis sampai Elsya kembali ke pelukanku. Tak lama kemudian, aku kedatangan mbak Laily dari Kelompok Perempuan Pro Demokrasi, KPPD. Dia juga berniat memberi pendampingan. Setelah tunggakan kos sebesar Rp 220.000,- kulunasi, dan berpamitan dengan semua tetangga, aku memilih mengungsi ke shelter KPPD.

Meski aku buta hukum, tapi aku bertekat untuk merebut kembali Elsya ke pelukanku. Mungkin secara hukum aku tidak bersalah karena saat tanda tangan, tidak ada tulisan apapun dalam perjanjian itu. Lagipula aku dalam tekanan ekonomi dan mas Nanang yang suka main pukul.

Tapi di hadapan Tuhan, aku pastilah ibu yang sangat berdosa besar sampai tega menjual anakku sendiri. Inilah upaya penebusan ibumu, Elsya, anakku. Aku bertekat akan kembali mendapatkanmu. Aku berjanji untuk mengumpulkan serpihan keluargaku yang berantakan. Sambil ditemani tangan Tuhan yang pasti menggandengku.

Tiap malam aku masih sulit tidur. Wajah tak berdosa Alsya terus menghampiriku seolah tak mau lepas dari pelukanku. Apalagi sosok Elsya yang tengah dikuasai orang yang tak aku kenal. Wajah kedua anakku terus membayang.

Kalau aku ingat kembali peristiwa itu, Alsya sepertinya sengaja menjadi tamengku agar aku tidak terluka kena aspal. Supaya aku selamat. Bayiku mengorbankan jiwanya sendiri supaya aku selamat. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada cinta seseorang yang hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri untuk orang lain.

Untuk sebuah rencana besar. Supaya aku bisa berjuang mendapatkan kakaknya lagi. Supaya Elsya kembali dalam dekapanku. Supaya aku bisa membesarkan Elsya yang telah dijual mas Nanang. Supaya Elsya tidak sepertiku kelak. Supaya hidup Elsya lebih bahagia dan jauh lebih mulia.

Selamat jalan anakku, Alsya. Aku merelakanmu. Doaku, semoga kamu jadi malaikat paling ganteng di surga, dan jadi malaikat yang melindungi semua bayi di seluruh dunia. Amin.

Senin, 23 November 2009

BERANI MATI?


Surabaya, 21 November 2009

Ambil parang tebas leher!
Siram bensin, bakar!
Busur dihunus, lesat panah menikam!
Tangan mengepal, Tuhan tamengnya!
Haus melihat darah membanjir
Lapar mendengar rintih ampunan
Galau jika tiada perang
Ria kala anarki

kalau mati, masuk surga
kalau hidup, apa nista?

pak tua jaja tahu
selalu bikin, jualnya keliling kampung
tawarkannya melolong
paginya sampai siang, sorenya hingga malam, malampun terus pagi
sepeser kumpul, setali hitung
ini untuk bekal energi


BERANI MATI?

berani hidup?

POTRET MALAM

Surabaya, 21 November 1999

raya rungkut industri.
larut malam.
kantuk serang.
dingin menusuk.
nyetir sendiri.
jalanan sepi.

sisi bukan kanan.
emperan toko.
ada yang tidur.
penjual kêré.
sepeda dijagrang.
2 kêré ikat di sepeda.

dari desa?
dari dukuh?
laku banyak?
blas?
brapa di kantong?
beli nasi cukup?
nggak pulang?

aku pilu.
sedih.
harus apa?
uang?
beli kêré?
tumpangan?

aku pilu.
terpasung.
harus apa?
akhirnya ucap.
selamat malam.
Pak kêré.
selamat tidur.
pergi nyamuk!
selamat tidur, Pak.

SETIANG LAMPU LALU LINTAS


Surabaya, 23 November 1999

Merah.
Nyala, berhenti!
Kendaraan stop tiada lewat boleh.
Dari sono banyak lalu lalalng.
Depan menyeberang rame
jalan kaki

Kuning.
Keclip-keclip siap-saiap mau hijau
mungkin merah hendak

Hijau.
Melotot.
Ayo jalan!
Yang belakang klakson pekak telinga
bingar bising sulut pitam gerutu umpatan.
Yang nyebrang, setop!

Merah nyala!
Kuning keclip-keclip!
Hijau melotot!
Serempak.

Lalu lintas bingung.
klakson-klakson-klakson.
macet-macet-macet
umpat-umpat-umpat
teriak-teriak-teriak
panas-panas-panas
telat-telat-telat
marah-marah-marah
kacau-kacau-kacau
protes-protes-protes
hujat-hujat-hujat
ego-ego-ego
kamu salah-salah-salah
EGO-EGO-EGO

Senin, 09 November 2009

UNTUKMU SEMUA

Surabaya, 8 November 2009

ini lenganku,
ambil saja untukmu kau sedang butuh untuk mengambil air

silakan,
telingaku buatmu engkau pasti butuh untuk menyemat dengar

jangan ragu,
ini pankreasku untukmulah saja dirimu sedang perlu mencerna lemak

ambil dan pakai
tubuhku untuk kalian perlu hidup

yang kau ambil aku tak mungkin kehilangan pasti tak kekurangan

PILIHLAH




Surabaya, 8 November 2009


aku punya jajan untukmu


pilih mana kuberikan?

tangan kiriku?
biasa untuk ceboki anus setelah berak
pastinya ada tai yang kena

tangan kanan?
pernah kupakai menghujam pedang ke dalam tenggorokan satu tetangga
buat menampar keponakan dia mukul anakku
untuk tanda tangan kesepakatan menggusur rumah janda tua

kiri – kanan?

Kamis, 05 November 2009

MENGECUP DUKA

Surabaya, 2 November 2009


Kian hatiku jadi serpihan
Melihat kekasihku tak berhias
Nestapa merayap selimuti kayuh
Seperti gelegar petir tiada bising
Senyap gulana

Aku hatiku hariku nyeri
Linu di ulu mata leleh

Tapi kasihku membelai cinta
Mesra hapus air dari mata
Kami berjalan masih ada esok
Kami labuh di terang rembulan mentari

Senin, 05 Oktober 2009

KAKU


Surabaya 1999


Setapak jejak tak beragam sunyi hening

langkah
langkah
langkah

Hampir tak bernada, hampir tak seriuh langkah mereka,
pun gejolak ombak tak hantam.
Kemarin tampak coklat tua.
Kini terlihat coklat tua.
Esok coklat tua.

Pandangan tetap lurus mata sayu
bibir terkatup hati bisu
Bisik angin di telinga sahabat seharian.
Nyanyian prenjak di dahan tak ubah irama.
Deru asap knalpot tak luapkan emosi tak ubah motto.
Hari-hari tak gelap tak pula terang
tak corak jua

Senin, 14 September 2009

UNDANGAN AKSI UNJUK RASA DAMAI

RUU RAHASIA NEGARA JELAS-JELAS MENGANCAM TUGAS JURNALIS YANG KERAP MENGUNGKAP SKANDAL, INTRIK POLITIK, DAN DUGAAN KORUPSI YANG DILAKUKAN APARAT NEGARA TERMASUK PNS, BUMN, TNI, MAUPUN POLRI.

JIKA DISAHKAN, JURNALIS TIDAK AKAN LAGI DAPAT MENGUNGKAP ALIRAN DANA YANG DIGUNAKAN TNI, POLRI, DAN PEMERINTAH, YANG SUMBERNYA DARI UANG RAKYAT KARENA BISA DIKALSIFIKASIKAN: RAHASIA NEGARA.

DENGAN ADANYA RUU INI, SEMUA ORANG YANG MENGETAHUI DAN MENYEBARLUASKAN INFORMASI YANG DIANGGAP PRESIDEN SEBAGAI RAHASIA NEGARA BISA DIHUKUM HINGGA 20 TAHUN PENJARA DAN DENDA Rp 1 MILYAR.

SELAIN BISA MEMENJARAKAN PERORANGAN, RUU INI JUGA BERWENANG UNTUK MEMBREIDEL MEDIA TEMPAT KITA BEKERJA. PADAHAL DALAM UU 40/1999 TENTANG PERS, PEMBREIDELAN JELAS-JELAS DITIADAKAN.

AKANKAH JURNALIS DIAM SAJA DENGAN ADANYA RUU YANG AKAN DISAHKAN DALAM HITUNGAN HARI INI? AKANKAH KITA BARU MELAWAN SETELAH JATUH KORBAN?

UNTUK ITU, "KOALISI TOLAK RUU RAHASIA NEGARA" YANG TERDIRI DARI JURNALIS, BURUH, PEKERJA HAM, DAN MAHASISWA, MENGUNDANG SEMUA JURNALIS SESURABAYA UNTUK BERGABUNG BERSAMA DALAM AKSI UNJUK RASA DAMAI PADA:
RABU, 14 SEPTEMBER 2009
di DPRD JATIM
pukul 9.00 WIB (kumpul di cak mat)

KITA AKAN MENDESAK ANGGOTA DEWAN JATIM UNTUK MENYUARAKAN SUARA RAKYAT JATIM YANG MENOLAK RUU RAHASIA NEGARA INI.


SALAM PERJUANGAN,
Donny Maulana (Juru Bicara Aksi)
Andreas Wicaksono (Korlap)

Jumat, 11 September 2009

KOALISI JURNALIS SURABAYA TOLAK RUU RAHASIA NEGARA

RUU Rahasia Negara akan segera disahkan oleh DPR-RI dalam hitungan hari. Secara gamblang, RUU ini mengancam kebebasan masyarakat mendapatkan informasi. Segala hal yang berbau data pemerintah atau negara, bisa diklaim sebagai rahasia negara dan tidak bisa dipublikasikan. Jangankan memublikasikan, mengetahui saja sudah dianggap sebagai kriminal atau perbuatan melawan hukum.

Dengan RUU ini pemerintah khawatir stabilitas negara bisa goyah jika sejumlah informasi diketahui publik. Selama 64 tahun merdeka, pernahkan negara ini goyah hanya karena secuil data bocor ke publik?

Jurnalis, adalah kaum yang selama ini selalu berurusan dengan data-data yang dimiliki instansi pemerintah maupun BUMN untuk dipublikasikan. Tujuannya tidak lain sebagai kontrol atas kinerja mereka. Lagi-lagi, para jurnalis adalah pihak yang mendapat ancaman terbesar dengan diberlakukannya RUU Rahasia Negara.

Tengok saja pasal 46 yang mengkriminalkan seseorang untuk memotret (misalnya) penangkapan polisi terhadap seorang tersangka teroris. Jika ada jurnalis yang memotret peristiwa tersebut, bisa diancam hukuman 7 tahun penjara. (setiap orang yang dgn sengaja melawan hukum atau menghalangi atau memotret atau merekam aktivitas rahasia negara bisa diancam hukuman minimal 7 tahun, maksimal 20 tahun penjara dan denda 500 juta rupiah sampai 1 milyar rupiah). Tidka hanya jurnalis yang terancam, bahkan ada pasal yang leluasa memberangus perusahaan media.

Kami mengajak seluruh jurnalis se-Surabaya untuk sepakat MENOLAK penetapan RUU ini menjadi UU. Untuk itu kami mengundang para jurnalis untuk berdiskusi tentang RUU Rahasia Negara di:
Tempat : PUSHAM UNAIR, Jl. Karang Menur 4 / 41, Surabaya
Hari : Senin, 14 September 2009
Jam : 19.00 WIB

Diskusi ini akan ditindaklanjuti dengan aksi turun ke jalan oleh kelompok pembela HAM. Selain para jurnalis, turut pula bergabung sejumlah LSM yang juga MENOLAK pengesahan RUU ini, seperti Respublika, Pusham Unair, Koalisi Perempuan Indonesia, Pusham Ubaya, dan masih banyak lagi.

Salam perjuangan!

Kamis, 28 Mei 2009

Dirubung Bodrek


Ini terjadi waktu saya jadi panitia (tepatnya koordinator pers) di Gebyar Budaya dan Doa Bersama “Bangkit Indonesiaku” di gedung SIBEC ITC Mega Grosir, Rabu (27/5). Sebagai pejabat di posisi ini, saya bertugas mengundang rekan-rekan pers, membuat rilis, mendistribusikan id card, mengliping berita, dan pastinya membagikan makan malam untuk para rekan wartawan.

Gelagat aneh sudah nampak pada jumpa pers sehari sebelum pagelaran, tepatnya Selasa (26/5). Apalagi sehari sebelumnya ketua panitia meminta saya menelepon redaktur harian FAKTA METROPOLIS agar datang meliput. By the way, apa ada yang pernah dengar media ini?

Saat pembagian id card usai jumpa pers, berbagai bodrek dengan nama media yang aneh mengerubuti saya. Salah satunya dari OPSI. Anehnya ada seorang (ngakunya) wartawan dari KORAN OPSI NASIONAL. Saya sempat heran dan berani tanya, ”Lho tadi dari OPSI sudah saya beri id card. Kok Bapak minta lagi?”

Lalu dengan santay dia menjawab, ”Itu kan OPSI, Mas,”
”Lha kalau Bapak?”
”Saya KORAN OPSI NASIONAL. Korannya ada kok, saya bawa. Mau liat?” jawabnya antusias.
”Oh ndak usah, Pak.” sambil saya beri id card. Saya males berdebat apakah korannya eksis atau tidak. Saya pikir percuma ngotot sama orang nggak waras.

Hari yang dinanti datang juga. Bahkan waktu saya masih di perjalanan menuju TKP, Fauzy, yang ngaku wartawan Jakarta Post (tanpa the di depan) meng-sms saya telah menunggu saya di meja konsumsi panitia di dalam gedung. Dia minta id card.

Saya sampai di TKP jam 16.00. Id card dan rilis saya berikan ke Fauzy. Ajaibnya, dia langsung minta makan, ”Mas saya bisa dapat makan sekarang?”
Terus terang saya kaget sambil bengong.
”Iki jam piro mas? Mangane gae engko bengi,”
”Bengi jam piro mas?” tanyanya nggak sabar
”Mas, saya diberi kupon makan nasi kotak untuk 94 wartawan. Kalau saya ambil sekarang, apa Sampeyan gak kasian sama saya? Ke mana-maka mekeh-mekeh bawa semua nasi kotak itu?”
”O ya sudah kalau gitu,” jawabnya kecut.
”Tenang aja lah Mas! Kata panitia, jam 18 jatah bisa diambil,” kilah saya

Puncak golgota sudah mulai terlihat. Jam 18 tepat, si Fauzy ini mendatangi saya, ”Mas ini sudah jam 6, katanya mau mbagi makan?”
”Ya! Ayo bantu saya ambil makan!”

Setelah menukar kupon, saya mendapat 94 nasi kotak dan 2 dos air mineral kemasan gelas. Saya letakkan di pojok belakang ruangan.

Inilah puncak golgota!
Para laskar apotik itu langsung bergerombol menyerbu saya persis seperti antrean zakat maut Pasuruan. Semua membentak, njawil, dan merengek minta jatah makan. Saya beri mereka jatah makan setelah menyebut asal media mereka. Dasar bodrek, medianya juga gak jelas namanya. Aneh dan cenderung norak. Bahkan ada yang minta 2 sampai 3 kotak. Alasannya untuk temannya. ”Suruh datang ke sini sendiri!” perintah saya. Gitu ya dilaksanakan. Hehehe berarti saya berwibawa! Hahahha

Di tengah pembagian itu, ada seorang laki-laki berbadan tinggi besar pakai kaus putih gambar Miki Mouse. Sambil agak membentak, dia minta jatah makan.
”Saya belum dapat makan, Mas”
”Sampeyan dari mana?” tanya saya cuek
”Dari pers,” jawabnya ketus tus tus tus
”Lha iya, pers mana?”
Kontan dia menunjukkan kegoblokannya dengan berpaling nanya ke 2 temannya, ”Eh, awak dewe teko pers opo?”
Kontan saya tolak dengan nada agak keras, ”Wis talah, Mas. Gak usah mbujuki. Sego iki khusu gawe pers. Liyone NO WAY”
Rupanya dia kesal dan balik membentak, ”Aku iki teko polwil!”
“Ealah… gak ngomong ket mau. Sepurane, Cak!” sambil saya jabat tangannya dan 2 temannya yang lain yang nunggu sambil duduk dan tersenyum kecut.
“Mas, jatah kita dibawa keluar. Nggak tau siapa yang bawa,” kata teman orang itu yang mungkin juga intel.
”Wah, kalau itu saya gak bisa bantu. Mohon maaf,”
Masih dengan nada kesal dan agak tinggi dia tanya lagi ke saya, ”Sampeyan wartawan opo?”
Lalu saya sebutkan media saya. Eh dia langsung nunduk malu. Hahaha... kira-kira kenapa nunduk ya? Deng dong!

Belum selesai....

Lalu seorang ibu sekitar umur 50 tahunan datang dengan membawa id card acara bertulis OPSI, ”Mas, saya belum dapat makan. Mana jatah saya?”
”Ibu dari OPSI?”
”Iya. Apa Mas nggak bisa liat ini?” sambil menunjukkan id card kegiatan ke muka saya.
”Tadi jatah untuk OPSI sudah diambil. 2 kotak lho, Bu”
”Siapa yang ngambil?”
”Nggak tau, Bu. Kan tadi banyak orang. Yang jelas sudah diambil. Satu media dapat 2 kotak,” jawab saya sambil sedikit ngaco
”Lho saya ini laper belum makan. Gimana tanggung jawab panitia?”

Sebenarnya masih ada sekitar 50an nasi. Tapi saya berkeras tidak mau memberi. Karena bisa-bisa semua akan minta.
”Bu, ini buat temen-temen wartawan yang mungkin datang agak terlambat. Kalau habis kan kasihan mereka. Kalau ibu mau, ya silakan nunggu sampai acara selesai. Kalau masih ada, monggo makan,”
”Wah yo selak keluwen, Mas,”
”Ya terserah ibu,”
Lalu dia ngeloyor.

Tidak lama kemudian, datang seorang bodrek perempuan minta 2 nasi, ”Satu lagi buat temenku, Mas.” katanya tanpa beban
”Suruh datang sendiri, Bu”

Lalu dia datang seperti tanpa beban. Dasar iseng, saya tanya dia apakah dia pers, dan dari media apa?
”Ibu mau apa?”
”Makan”
”Ibu dari media apa?”
”Ha? Ee... e....” dia terlihat kebingungann sambil terbata-bata.
”Ibu wartawan?”
Anehnya dia menjawab dengan wajah cerah, tersenyum, dan tanpa beban, ”Oh bukan. Yang wartawan suami saya, Mas,”
”Ya gak bisa, Bu. Ini nasi khusus untuk wartawan bukan untuk keluarga wartawan,”
Mundur teraturlah dia, hahahaha...

Lama berselang, seorang bodrek berbadan tinggi besar pakai baju hitam-hitam dan topi hitam juga memanggil saya dari jarak sekitar 4 meteran.
”Ndre, sini!” sambil ngawe-awe.
Saya risih. Cukup dijawab dengan mengernyitkan dahi dan menggeleng. Eh dia emosi dan makin memanggil saya dengan nada lebih tinggi.
”Kamu ini, sini kok!”
”Kan Bapak yang butuh, ya Bapak yang ke sini,”
Dengan muka marah dia menghampiri saya, ”Wah arek iki!”
Lalu tangan saya disahut jari-jari besarnya dan menarik saya. Ya jelas nurut terpaksa hehehe... kalah tenaga bos!

”Iku, panitia iku!”
”Kenapa?” tanya saya bingung
”Tadi temen-temen minta kue ke dia tapi gak diberi. Eh, ada orang asing masuk malah diberi,”
”Terus?”
”Ya difoto sama temen-temen. Biar dimuat besar-besar di koran. Biar kapok!”
”Please deh!” batin saya.

Hanya perkara kue diributkan. Mungkin dia berharap saya melarang mereka memuat foto si panitia itu dan memberitakannya. ”Ya gak papa, dimuat aja” sahut saya enteng.

Yang terakhir datang seorang bodrek berpawakan sedang, mata sipit, kaca mata tebal, selalu berjaket coklat lusuh, dan tas rasnel di punggung. Kumis dan jenggotnya yang tidak rapi dihiasi dengan remah-remah nasi bekas makan malam nasi kotakan. Saya rasa teman-teman tahu orang ini. Dia tanya ke saya sambil terbata-bata, ”Numpang tanya mas. E... e... e... ta..ta..tadi acaranya mu... mulai jam berapa?”
”HAAAAAAAAAAAAAA????” saya kira dia mau nanya hal yang sangat penting, ternyata hanya tanya jam dimulai acara.

Hehehe... saya sangat bersyukur bisa menajabat posisi itu dan mengalami pengalaman emas seperti itu. Ini sungguh pengalaman berharga. Ada yang tertarik mencoba?

Selasa, 19 Mei 2009

Kenapa Mereka Jahat, Mak? (In Memoriam SITI KHOIYAROH)


oleh: Eddy Prasetyo - Reporter suarasurabaya.net

Serasa baru kemarin aku membelikannya tas baru untuknya sekolah. Ya, memang bulan Juni depan dia akan masuk taman kanak-kanak di dekat rumah kami. Ini adalah awal buat dia menapak kejamnya dunia, seperti yang aku dan MAT NAKI suamiku, alami. Yang penting dia jangan seperti aku, yang tiap harinya harus jual pentol di Boulevard WTC. Aku kepingin YAROH anakku jadi nyai...

Terbayang dia nanti besarnya seperti AA' GYM...haha...AA' GYM perempuan tapinya. Bakat-bakat jadi nyai sebenarnya sudah aku endus sejak dia mulai pintar bicara. Untuk kemampuannya yang satu ini, banyak kerabat dan tetanggaku jadi jatuh hati pada YAROH. Pernah satu hari kami setengah mati mencarinya. Namanya anak satu-satunya, saya pikir dia hilang. Ternyata dia main ke rumah tetangga kami yang agak jauh...katanya dia sangat menggemaskan. Sampai-sampai tetangga kami itu lupa mengembalikan YAROHku ke rumahnya.

Rumah kontrakan kami di Jl. Kedung Klinter IV/33 memang sangat sederhana. Bahkan kalau mau dibilang tidak terlalu nyaman untuk ditinggali. Tapi tidak mengapa. Yang penting kami bisa hidup bahagia bersama suamiku dan YAROH. Kami bersyukur punya tetangga yang baik hati. Begitu juga kerabat kami, Mbak MASRU'AH. Dia sudah seperti ibu kedua buat YAROH. Kalau kami bekerja jualan pentol, YAROH sering kami titipkan pada mereka.

Tapi kejadian 11 Mei 2009 seminggu lalu mungkin jadi hari apesnya buat YAROH. Entah kenapa aku ingin sekali membawa YAROH bersama kami jualan pentol. Tidak ada sedikitpun firasat hari itu akan berakhir buruk. Yang penting, seperti hari biasanya, kami harus membawa pulang uang untuk membayar kontrakan dan tentunya, uang tabungan untuk YAROH sekolah.

Astaghfirullah, aku tidak mau mengingat kejadian itu. Terlalu pedih rasanya. Terlalu menyakitkan...melihat anakku mengelupas kulitnya terkena siraman kuah pentol daganganku. Aku sendiri terlalu panik saat itu menghindari mereka yang dengan sangat buas mengejar kami. Aku takut satu-satunya rombong kami mencari nafkah diambil mereka. Menyesal rasanya meletakkan YAROH di di atas rombongku saat itu. Tapi mengapa mereka melakukannya? Mengapa mereka mengambil anakku satu-satunya? Mengapa mereka tidak memberi kami kesempatan untuk menyekolahkan YAROH?

Saat kawan seperjuangan kami berdagang di Boulevard WTC melarikan sepeda motornya ke RSU dr Soetomo dengan YAROH di pangkuanku, aku hanya bisa mengingat dia berkata lirih, "Mak....Panas, Mak!?" Hati ibu mana yang bisa tahan mendengar putri semata wayangnya seperti ini. Bahkan pedihnya air panas yang menyiram tanganku tak lagi kurasakan.

Terus terang, aku sangat takut kehilangan YAROH saat itu. Aku cuma bisa berdoa, seperti yang diajarkan ibu kalau aku sedang kesusahan. Apapun doa yang kuhapal kubaca saat itu. Kiranya Tuhan mendengar. Hari demi hari kami lalui di RSU dr Soetomo, aku dan suami tak bisa lagi konsentrasi bekerja. Mau bekerja bagaimana? Wong rombongku sudah terbakar. Tapi Alhamdulillah Pemkot Surabaya membebaskan biaya berobat YAROH.

Sedih rasanya melihat YAROH dalam kondisi tak berdaya seperti ini. Seperti mumi saja dia. Tubuhnya dibebat hanya bersisa mata, lubang hidung, dan mulut. Kata dokter, YAROH menderita luka bakar 67%. Aku tidak tahu angka-angka itu, tapi melihatnya saja aku sudah tahu itu sungguh parah.

Saat dirawat di unit luka bakar rumah sakit ini, YAROH beberapa kali dikunjungi tetangga dan beberapa kerabat kami dari Sampang, Madura. Senangnya bukan main dia. Sempat beberapa kali dia berceloteh padaku. Yang paling kuingat adalah pertanyaan ini : "Mak, kenapa polisi-polisi (Satpol PP) itu mau tangkap emak? Mereka jahat ya, Mak? Dibeleh aja Mak mereka!" Mau menangis saja kalau mengingat dia berkata itu.

Sekarang aku sudah tidak punya YAROH lagi. Tidak tahu ke mana saya mengadu. Ke Tuhan saja mungkin cukup. Andai saja kupunya kekuatan memutar kembali waktu, tidak akan kubawa YAROH waktu itu jualan pentol. Tapi sudahlah....semuanya sudah terjadi. Aku sudah pasrah. Aku terlalu miskin untuk mengadu ke mereka. Mereka terlalu kuat, punya uang untuk membeli apa saja, punya kepalan tangan untuk menonjok siapa saja. Punya kekuasaan untuk mengubah segalanya, termasuk mengubah nasibku. Aku terlalu miskin untuk bisa berbuat sesuatu, meskipun untuk YAROH sekalipun yang saat ini sudah menyatu dengan bumi.

Aku hanya punya tas sekolahnya yang kubeli beberapa hari lalu untuk mengingat kata-katanya : "Mak, kenapa polisi-polisi (Satpol PP) itu mau tangkap emak? Mereka jahat ya, Mak?

Selamat jalan, YAROH, aku yakin kamu di surga sana jadi nyai terhebat. Lebih hebat dari AA' GYM sekalipun. Kami semua sayang kamu....:(

In Memoriam :
SITI KHOIYAROH gadis 4 tahun yang meninggal Senin, 18 Mei 2009 pukul 15.25 WIB. Ia meninggal setelah seminggu dirawat di unit luka bakar RSU dr Soetomo akibat luka bakar tersiram kuah mendidih pentol saat berlangsungnya penertiban PKL Boulevard WTC.

foto: Eddy Prasetyo dan Andreas Wicaksono

Rabu, 13 Mei 2009

SOSIALISASI UU 40/1999 MELEMPEM, JURNALIS KALAH TERUS

Penganiayaan dan pelarangan liputan terhadap wartawan kembali terulang. Mulai dari ulah para satpam PLN Jatim yang melarang dan menganiaya sejumlah jurnalis, pemukulan bonek terhadap wartawan Surya, hingga yang terbaru pelarangan dan penganiayaan terhadap Carlos Pardede, reporter SCTV.

Hampir semua media memberitakan peristiwa tersebut. Terutama kasus yang paling akhir, yaitu yang dialami reporter dan kamerawan SCTV. Semua institusi media habis-habisan menyerang satpam BI dengan mengatakan bahwa kelakuan para satuan pengamanan itu telah melanggar pasal 18 UU 40/1999 tentang Pers.

Saya sendiri juga korban penganiayaan saat melakukan tugas jurnalistik. Seorang satpam dan karyawan UPN Jatim memukuli dan merusak kamera saya saat meliput unjuk rasa mahasiswa di kampus tersebut. Peristiwa itu terjadi pada 25 April 2006.

Pekerjaan seorang jurnalis dilindungi oleh hukum seperti yang tertera dalam pasal 8. Secara eksplisit ditulis, ”Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum”

Sayangnya perlindungan hukum seperti apa yang didapat wartawan saat berugas, tidak jelas. Buktinya kasus usang seperti ini terus-terusan terjadi. Pers menjadi bulan-bulanan masyarakat di lapangan. Dipukul, dianiaya, dihalangi, bahkan ada yang dibunuh gara-gara menulis.

Dengan era digital yang serba cepat ini, tidak sulit untuk mendapatkan sebuah referensi. Apalagi untuk mencari dan membaca UU 40/1999 tentang Pers. Kunjungi saja sebuah search engine di internet, lalu ketik UU 40/1999 tentang Pers. Di situ akan muncul ribuan situs yang memuat undang-undang ini.

Lantas jika itu sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan, muncul sebuah pertanyaan mendasar. Apakah masyarakat tidak paham tentang aturan itu?

Jika pers mau introspeksi diri, masyarakat tidak bisa serta merta disalahkan. Karena tidak semua warga bisa dan mau mengakses internet dan memperkaya diri dengan pengetahuan. Tidak sedikit masyarakat kita yang tidak paham dengan internet. Banyak juga yang tidak mau ambil pusing dengan keberadaan pers.

Pengalaman di lapangan membuktikan. Jika seorang pengusaha sedang tersandung kasus, kebanyakan mereka akan menutup diri tidak mau memberi keterangan pada pers. Jurnalis dianggap mengganggu kehidupan mereka. Padahal tugas wartawan adalah mencari konfirmasi, sehingga berita yang disajikan berimbang sehingga layak dikonsumsi masyarakat. Namun hal ini cukup sulit dilalui, apalagi jika perusahaan tersebut kurang paham dan cenderung tidak ambil peduli dengan dunia jurnalistik.

Tapi keadaan justru berbalik ketika berita yang disajikan mereka anggap menyinggung. Buntutnya, pers kena gugat di pengadilan. Padahal pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan bisa meminta hak jawab. Pers Indonesia wajib melayani hak jawab seperti yang diamantkan dalam UU 40/1999 tentang Pers tepatnya pasal 5 ayat 2. Kalau media tidak mau melayani hak jawab, masyarakat bisa mengadu ke Dewan Pers. Segala pintu sebenarnya sudah tersedia bagi masyarakat, dan tentu saja gratis.

Hak jawab hanya diberikan media ketika berita itu sudah dimuat atau ditayangkan. Jika tidak disiarkan, otomatis masyarakat tidak bisa mendapatkan hak jawab.

Kewajiban seorang wartawan adalah liputan. mencari, mengumpulkan, dan mengolah data menjadi laporan jurnalistik. Eksekusi menayangkan berita bukan wewenang wartawan yang meliput. Hal itu menjadi hak penuh seorang pimpinan redaksi. Jadi sebuah liputan belum tentu bisa diberitakan. Alasannya beragam. Mulai dari ruang berita yang sudah penuh, data yang belum akurat, hingga berita yang rawan menimbulkan perpecahan bangsa.

Dengan alasan itu, tidak ada seorangpun yang boleh menghalangi wartawan meliput berita. Karena bisa saja berita yang didapat tidak ditayangkan/ dimuat. Jika dimuat dan masyarakat tidak suka, bisa menggunakan hak jawab. Bagaimana jika tidak dimuat tapi wartawan sudah terlanjur jadi korban penganiayaan?

Beberapa waktu lalu saat AJI Surabaya mendampingi Akbar Insani, fotografer Surabaya Pagi, melaporkan pelarangan terhadap dirinya ke Polwiltabes Surabaya oleh sejumlah satpam PLN Jatim, mendapati hal unik. Tim advokasi meminta petugas SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) untuk menggunakan pasal 18 UU 40/1999 tentang Pers sebagai undang-undang yang dilanggar para satpam.

Namun menurut petugas polisi yang piket, logika hukum harus menggunakan KUH Pidana dahulu, yaitu pasal perbuatan tidak menyenangkan. Hal pelarangan meliput, pasal 18 UU 40/1999 tentang Pers kemudian menyertai.

Jika masyarakat dibagikan salinan UU 40/1999 tentang Pers, bisa dipastikan mereka bisa membacanya. Tapi bagaimana mereka mampu memahami intisari dari undang-undang tersebut, itu yang menjadi masalah. Harus ada sebuah forum untuk menjelaskan kepada masyarakat. Apakah itu warga sipil ataupun aparat penegak hukum. Bahasa populernya, sosialisasi.

Lalu, siapa yang wajib melakukan sosialisasi UU 40/1999 tentang Pers? Jawabannya adalah insan pers sendiri. Jika pers peduli dengan pekerjaannya dan hak masyarakat mendapatkan segala informasi yang bermutu, maka jurnalis bersama dengan media tempatnya bekerja harus merasa perlu melakukan sosialisasi.

Jika pers lepas tangan, pelarangan, penganiayaan, dan pembunuhan terhadap jurnalis pasti akan terus terjadi. Wartawan akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dan tidak punya wibawa.

Penganiayaan dan pelarangan liputan terhadap wartawan kembali terulang. Jika saat ini marak pelakunya adalah satpam, itu hanya kebetulan saja. Suatu saat bisa saja pelakunya adalah masyarakat sipil biasa. Pelarangan dan penganiayaan terhadap jurnalis akan terus terjadi jika kita sendiri hanya diam.

Sudah saatnya pers bangkit dan bergerak. Sosialisasi UU 40/1999 tentang Pers mutlak harus dilakukan oleh pers sendiri. Tidak selalu harus dalam sebuah forum besar dan formal. Penjelasan kepada masyarakat juga bisa dilakukan pada saat informal, waktu nongkrong di warung misalnya. Mengapa tidak?

Rabu, 08 April 2009

Elang Lautkah?


Saya miris ketika melihat burung yang cantik ini harus menghabiskan sisa hidupnya dalam sangkar. Secara tidak sengaja, saya mendapati burung ini ketika saya sedang mencari sebuah alamat di suatu wilayah di kawasan Surabaya Timur.

Saya sangat penasaran untuk mengetahui jenis burung ini, juga apakah termasuk satwa dilindungi atau tidak. Sekalipun tidak dilindungi, kok teganya membelenggu mahluk eksotis ini dalam sangkar ya?

Pemiliknya mengurung si burung dalam sebuah sangkar kawat ayam yang tidak terlalu besar. Bahkan saya yakin burung ini tidak bisa terbang dalam sangkar ini. Penjara ini diletakkan di luar rumahnya.

Setelah membandingkan dengan burung yang ada di Kebun Binatang Surabaya (KBS), saya yakin burung ini termasuk jenis elang laut. Sangkar yang dibuat oleh KBSpun cukup besar. Sehingga burung yang dipelihara di sana masih dapat terbang dalam sangkar sekalipun burung berukuran besar sekalipun.

Lalu saya konfirmasi ke mas Hartoyo, seorang teman baik saya yang anggota polisi. Beliau bilang kalau elang laut termasuk hewan dilindungi. Jika tidak memiliki ijin dari BKSDA (Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam) bisa dipidana. ”Elang laut termasuk hewan dilindungi, Ndre. Kalau kepemilikannya ilegal bisa dikurung kayak burung itu.” kata mas Hartoyo

Saya sempat mengalami ekstase luar biasa meski tanpa ejakulasi. Kalau saya laporkan, pemiliknya bisa dijebloskan ke balik jeruji besi. Tapi sekaligus gundah. Karena kalau pemiliknya punya ijin dari BKSDA, dia tidak bisa ditahan. BKSDA bisa mengeluarkan ijin bagi perorangan atau kelompok untuk memelihara hewan dilindungi.

Ini pernah terjadi di Surabaya, seorang pengelola kamp tinju hampir ditangkap Polwiltabes Surabaya karena memelihara harimau. Tapi urung diborgol polisi lantaran punya ijin dari BKSDA.

Saya hanya bisa berharap, burung ini termasuk hewan dilindungi. Pemiliknya tidak punya ijin dari BKSDA sehingga bisa dipidana. Lantas burung ini bisa dilatih untuk mencari makan sendiri sehingga mampu bertahan hidup ketika dikembalikan ke alam bebas. Semoga menjadi kenyataan.

wahai kau burung dalam sangkar...
nasibmu sungguh malang benar...
tiada seorang ambil tau...
duka dan lara di hatimu...

wahai kau burung dalam sangkar...
dapatkah kau menahan siksa...
dari kekejaman dunia...
yang tak tahu menimbang rasa...

batin menangis hati patah...
riwayat tertulis penuh dengan...
tetesan air mata...

sungguh ini suatu ujian...
tetapi hendaklah kau bersabar...
jujurlah kepada Tuhan...



sampaikan dukungan Anda berupa komentar untuk posting ini. Terima kasih, Tuhan memberkati segala usaha baik kita.
ubi caritas est vera, Deus ibi est

Jumat, 20 Maret 2009

Jenazah Manusia Kain Kafan Tidak Membusuk




Sejak pertama kali ditemukan pada 1354 oleh Geoffrey de Charny, seorang kesatria Prancis, kain kafan yang diduga untuk mengafani jasad Yesus, mengundang berbagai kontroversi dan penasaran berbagai pihak.

Dalam kain kafan berukuran 8 kubitus kali 2 kubitus, atau sekitar 4,4 meter kali 1,1 meter ini, terpampang gambar seorang lelaki yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka bekas penyiksaan . Di kedua pergelangan tangannya ada bekas luka tuskan paku. Tak terkecuali pada kedua kakinya. Pada lambung kanan ada luka tusukan benda tajam selebar 5 sentimeter.

Menurut Pastur Gabriel Antonelli, CP, seorang sejarahwan asal Italia, selama ribuan tahun tidak pernah ada seseorang yang disiksa sedemikian hebat sebelum akhirnya mati disalibkan kecuali Isa Almasih alias Yesus. Setelah dipelajari rupanya fakta dalam Injil sama dengan fakta-fakta sejarah yang dipaparkan pada kain kafan ini.

Tertulis dalam Injil, Yesus yang masih keturunan nabi Daud tewas di kayu palang di bukit Golgota. Sebelum mati disalib, Ia terlebih dahulu disiksa dengan cambuk berduri. Isa juga mengenakan mahkota yang terbuat dari ranting duri. Setelah itu Ia dipaku pada kayu salib. Lambung kanan anak Yusuf dan Maria ini ditusuk tombak utnuk emmastikan kematianNya.

Penelitian pada kain kafan tersebut menunjukkan hal serupa. Para ilmuwan mencatat ada lebih dari 120 luka cambuk yang memenuhi sekujur tubuh jasad manusia dalam kain kafan itu. Cambuk yang digunakan adalah jenis flagrum taxillatum. Merupakan cambuk berjuntai 3 dengan mata berduri mirip cakar di tiap ujungnya. Jika dicambukkan ke badan, sudah pasti meninggalkan luka cabik. Puluhan luka akibat duri-duri tajam membekas jelas di kepalanya.

Dari sejumlah penelitian, duri ini berasal dari sebuah tanaman semak berduri di kawasan Palestina. Hingga kini tanaman ini masih tumbuh di kawasan kering di sana.
Pada kain kafan itu tergambar jelas luka tembusan paku pada kedua pergelangan tangan dan kakinya. Luka selebar 5 sentimeter pada lambung kanan jenazah itu juga terpapar jelas.

Menurut Pastur Gabriel Antonelli, CP, tiga hal yang membuat gambar di kain kafan bagian dalam itu muncul adalah adanya darah yang menempel, minyak dan rempah-rempah yang digunakan adat orang Yahudi untuk mengurapi jenazah, serta kelembaban makam.

Tapi ia menegaskan, untuk menampilkan sebuah gambar manusia pada bagian dalam kainitu harus ada sinar yang sangat terang. Sinar itu dipastikan muncul dari dalam kain kafan yaitu dari jasad Isa Almasih. Sebab, dari mana lagi sinar itu datang jika bukan dari dalam kain? Karena gambar jasad itu terpapar pada bagan dalam kain bukan bagian luar.

“Untuk memunculkan gambar dalam kain itu, mutlak diperlukan cahaya yang sangat terang. Dari mana cahaya itu datang? Satu-satunya kemungkinan yang pasti adalah dari dalam tubuh Yesus sendiri yang terbungkus kain kafan itu.” jelas Pastur Gabriel.

Banyak ilmuwan yang mencoba mereka ulang pembuatan gambar manusia pada kain kafan torino menggunakan teknologi modern, tapi selalu gagal. Sebuah percobaan yang nyaris berhasil hanya bertahan beberapa bulan saja, perlahan pudar dan hilang.

Pada pameran replika kain kafan Yesus di Gereja Katolik Roh Kudus, Rungkut, Surabaya ini pengunjung mendapat penjelasan bagaimana Isa mengalami penyiksaan sebelum akhirnya mati disalib. Pameran ini mengundang perhatian dari seluruh kalangan. Tidak terkecuali Hajah Restuning Ati yang mengaku penasaran mengenai kisah sengsara Isa Almasih. Dengan mengetahui sejarah dan fakta tentang Isa, akan bisa mempererat persaudaraan antar umat beragama.

“Selama ini kan kita cuma tahu bahwa Isa disalib. Tapi bagaimana Dia disiksa dan akhirnya wafat kan tidak tahu. Saya pikir dengan menyimak pameran ini bisa mempererat persaudaraaan dengan saling memahami.” tutur Hajah Restunig Ati

Menurut Pastur Gabriel Antonelli,CP kain lenan replika ini ukurannya sesuai dengan aslinya yaitu 16 kubikus persegi atau sekitar 4,84 meter persegi.

Gambar pada kain kafan membuktikan jenazah di dalam kain kafan ini tidak hancur atau mengalami pembusukan. Jika membusuk, tentunya akan merusak kain lenan itu sendiri. Kain kafan ini sekarang tersimpan rapi di Katedral Santo Yohanes Pembabtis di Torino, Italia.

Jumat, 13 Maret 2009

Kolaborasi Gamelan dan Angklung Siswa Tuna Netra



3 daerah berkolaborasi dalam musik. Gamelan yang berasal dari Jawa Tengah dan Timur berkolaborasi dengan angklung asal Jawa Barat memainkan lagu asli Madura. Semua dimainkan oleh penyandang tuna netra.

Lantunan gamelan mengalun syahdu di antara sesaknya panggung saat pesta ulang tahun emas Yayasan Penyandang Anak Buta. Perlahan gaung angklung yang dimainkan para siswa tuna netra berkolaborasi hangat dengan para pengrawit. Kedua jenis alat musik beda budaya itu terasa kokoh.

Para siswa tetap gigih menopang sejumlah angklung yang tergantung di lengan mereka. Buliran keringat yang menetes dari dahi mereka, tak juga memupuskan semangat para siswa SMp dan SMA di SLB A YPAB ini.

Selama berlatih kedua kelompok musik ini tidak pernah bertemu untuk berlatih bersama. Para pengrawit berlatih sendiri, pemain angklung juga jalan sendiri. Mereka latihan terpisah karena sulitnya perpindahan peralatan musik ke satu tempat yang sama. Namun lagu Tanduk Majeng asal pulau garam, Madura, yang bercerita tentang kehidupan pesisir terdengar kompak dan tegas seperti mengayuh perahu di lautan luas.

Tak hanya memainkan angklung, para siswa dengan logat Madura meski bukan dari etnis Madura menyanyikan lagu Tanduk Majeng,

ngapote waklajere eta ngale
reng majeng tantonala pade mole

o mena jeling odikna oreng majengan
a bental ombak sapak angin salain jangan

olle ollang peraona alla jere
olle ollang alla jere ke madura
olle ollang peraona alla jere
olle ollang peraona alla jere

reng majeng benyak ongguh babajana
kabilang alako bandanya bana

men tengguh dari ombed pajelena
maseh benyak o angguh le olehna


Gamelan dimainkan para guru tuna netra sedangkan para siswa memainkan angklung. Karena terbatasnya siswa, maka satu orang siswa memainkan hingga lebih dari tiga angklung. Iva Yuliarma, siswa kelas dua SMP yang bertubuh mungil ini memainkan angklung terbanyak. Tidak tanggung-tanggung 6 buah angklung bergelayut di lengan kirinya. Namun bagi gadis berusia 15 tahun ini hal itu bukanlah beban.

”Awalnya susah, tapi lama-lama asyik juga kok.” katanya sambil terkekeh

Dalam kolaborasi ini mereka seolah menegaskan keterbatasan bukan menjadi halangan untuk tidak terbatas. Tidak hanya piawai memainkan angklung, sejumlah siswa juga mahir memainkan alat musik lain. Para siswa samasekali tidak kikuk saat memainkan gamelan dan alat musik modern.

Selasa, 10 Maret 2009

Barang Antik 1938 di Atas Rel Baja



Pernah terbayang bagaimana mengadakan resepsi pernikahan di dalam gerbong? Atau mempresentasikan proposal di dalam kereta api yang berjalan? Jika itu salah satu impian Anda, percayalah akan segera terwujud.

PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 8, Surabaya, akan segera meluncurkan kereta api wisata. Sebagai persiapan, mereka melakukan uji coba perjalanan, dari Surabaya ke Banyuwangi.

Meski terlihat antik dan terkesan uzur, namun 2 gerbong kereta api buatan tahun 1938 ini tampak masih kekar. Betapa tidak, seluruh dinding kedua gerbong terbuat dari plat baja 3 milimeter tanpa sambungan. Apalagi dengan baju barunya yang bercorak hijau dengan kombinasi kuning gading.

Roda-roda hitamnya terlihat masih kekar dengan disokong pegas ulir yang tahan bantingan. Ini membuat gerbong yang sudah berusia 70 tahun, masih mampu melesat di atas rel baja dengan kecepatan hingga 85 kilometer per jam.

Tim Balai Yasa Traksi dari Daop 8 Surabaya menamai dua gerbong kembar identik ini, Djoko Kendil 1 dan 2. Mereka mempertahankan bentuk asli gerbong bernomor IW 38201 dan IW 38212 ini. Tapi interior gerbong dirombak total, untuk kepentingan kenyamanan dan komersial.

Kata Sugeng Priyono, Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, ada dua alasan mereka memberi nama Djoko Kendil. Yang pertama, karena hampir semua kereta dan lokomotif yang dikelola Balai Yasa Traksi bernama depan Djoko. Ada Djoko Sembung, Djoko Tingkir, dan beberapa Djoko lainnya. Suatu kebetulan, kepala Balai Yasa Traksi saat ini juga bernama depan Djoko, yaitu Djoko Haryono.

Pemberian nama Djoko Kendil juga berdasar pada cerita rakyat Djoko Kendil. Cerita tersebut berkisah tentang seorang ksatria tampan dan baik hati yang menyamar sebagai seorang buruk rupa.

Dari luar, kedua gerbong Djoko Kendil mungkin nampak ganjil, tapi di dalamnya nuansa mewah akan menyapa ramah. Di dalam gerbong satu, terdapat ruang rapat dengan dilengkapi televisi LCD 36 inchi. Penumpang juga dapat memesan makanan dan minuman pada minibar yang ada.

Sedangkan gerbong kedua, disediakan tempat duduk untuk menikmati pemandangan selama perjalanan. Di bagian belakang germong ini juga disediakan tempat yang disebut balkon. Dari balkon ini, Anda tidak mungkin melewatkan pemandangan yang dilintasi kereta. Pasalnya terdapat kaca berukuran cukup besar, untuk melihat dunia luar.

Menurut sejarah, gerbong Djoko Kendil 1 merupakan gerbong pengangkut pejabat kereta api saat melakuan inspeksi jalur kereta. Sedangkan gerbong Djoko Kendil 2 adalah pengangkut regu penolong dan alat kerja. Pekerja dalam gerbong ini bertugas memberi bantuan pada kereta yang mengalami gangguan perjalanan.

Menurut Sugeng Priyono, nantinya kereta api Djoko Kendil akan melayani perjalanan wisata.”Tidak ada rute khusus utnuk wisata ini. Semua disesuaikan kehendak dan kocek penyewa.” kata Sugeng dengan antusias.

Ibadat tiada gading yang tak retak, lokomotif buatan Amerika tahun 1953 yang semula akan ikut diuji coba, belum bisa digunakan karena masih perlu perbaikan pada sistem pengereman.

Pihak PT KAI Daop 8 Surabaya, agaknya juga harus mengevaluasi suspensi gerbong Djoko Kendil. Kereta api wisata yang seharusnya nyaman dan terbebas dari guncangan, justru terasa bergetar. Tapi kita tunggu saja saat peluncuran nanti. Semoga segala kekurangan bisa tertutup.

Senin, 16 Februari 2009

SEGENGGAM MELATI



Surabaya, 4 Februari 2009

Ini malam ingatkan bertahun ayah bunda menikah.
Kami yang masih segelintiran ingin juga sekali berikan kado meski mungil saja.
Aku dan adik rencana mulai pagi siang sehingga malam mau sebentar sajalah.

Ini segenggam rencana dan beberapa lembaran rupiah
sudah sejak beberapa lama lalu kami siap-siapkan.
Tentunya untuk pesta sedikit malam ini makan agak sesuatu yang spesial.

Bunda bilang agar selalu hati-hati di jalan
ayah pula bawakan payung buat halau hujan
karena ini mendung sudah berteriak meraung hingar.
Gemawan gelap hampir menjejak ke bumi.
Sesekali kilat melesat terang sekaligus erangan garangnya.

Kami berpelukan erat sepanjang di perjalanan ke bakul martabak.
Di sana ternyatanya sudah berjajar-deretan mengular pembeli dari semua penjuru.
Ini bakul sangat pintar aku pikir membuat bumbu dan menggoreng martabaknya.
Sehingga rasa cinta tanah air bisa mungkin kalah sama rasanya.

Hitam di awan semakin menyalak gelegar hasrat mengintimi bumi.
Angin kencang terus memacu pepohon menari jingkrak
dinginnya ngilu di gigi dan lutut,
terutama bagi seumuran kami yang anak masih.
Sesekali mendung meludahi penduduk.

Tiba giliran kami,
Gerimis sudah semakin garang
ia berganti sosok dan wujudnya makin menyeramkan.
Beberapa terop warung beterbangan menyusul awan,
kebasahan melanda yang membuat kepanikan dasyat.

Payung yang di kami hampir diterpanya,
jika kubuka terus terbalik akan dan pastinya rusak.
Kututup sajalah biar sedikit basah tak apa

Selesai juga pesanan kami
Martabak 2 lembar,
masing seribu
masing 4 irisan
biarlah agak makannya puas,
seorang 2

Ditemani badai
Ini kami langsung melesat ke rumah pulang.
Apa daya kaki kecil tubuh mungil
Tak bisa menghindar hempas air cipratan kendaraan
Tiada mungkin mengelak kubangan,
terperosok masuk berdua kehilangan sandal
kaki lecet tangan luka di sana-sini

Untung saja cukup cekatan menyelamat martabak
Tak sampai jatuh
Tanpa basah
Bajulah kuyup, badan pastipun basah

Ini sudah di depan pintu rumah
Itu ayah bunda kami menyambut pelukan
pada kedua kami
galau mereka tersurat perih air mukanya kalut
guncang bahagia karena kami masih hidup rupanya

Bunda ayah mengheran pada apa kami bawa
Tubuh adik masih menggigil
rambutnya lautan air hujan
senyum kami menyingkap
menghaturkan martabak.

Bulir air itu mengerling dari mata wajah ayah dan bunda
Bangganya dan haru memeluk
Menciumi kami berdua
hangatkan basah hujan
musnahkan neraka jahanam
gelegar pesona ayah merasuk jiwa kami
selimut cintanya bunda seperti diang pada hati

ini dari kami kado nikah
ayah dan bunda
martabak untuk pesta


(puisi ini adalah hasil rekonstruksi puisi yang pernah hilang karena kerusakan harddisk computerku. Hasilnya memang tidak sebagus aslinya, tapi cukup mampu mengobati sakit hatiku selama beberapa tahun ini)

Rabu, 04 Februari 2009

SEPATU HITAM BERTALI PUTIH SOL PUTIH BERKOMBINASI BIRU MUDA MENYALA II



Surabaya, 5 Februari 2001

Tersirat berpuluh tahun bermesra dengan sepatu favoritku.
Ditanam sejuta puluhan memori sedari itu.
Terik hujan debu peluh basah mengering menyerap kuat
di tiap helai rajutannya.

Bersama kam melalui kebersulitan di hidup pun
ketersenangan manis nafas memuja serat di hidup.

Nian wujudnya tak lagi cantik.
Legam motifnya kini berpudar,
seputih tanah talinya merantas digelayut virus jaman.
Elok mulus solnya megap-megap menyerap genangan
menaik dalam sepatu,
putih bersih lagi tidak.
Sejelas mata memandang,
di ujungnya yang sebelah kanan terberkas lubang menganga.

Semuanya orang bertutur agara sesegera
menelantarkan dia beralih yang lebih kini.
Rayu bergelora menghujani tiap malam nun menggelinjang birahi digoda
pun bujuk beraroma menggelombang di tiap lagu hari-hari.

Kutelah mengikat janji berpatah arang sejiwa nyawa bertaruh.

Aku cinta kamu

Senin, 02 Februari 2009

SEPATU HITAM BERTALI PUTIH SOL PUTIH BERKOMBINASI BIRU MUDA MENYALA I

Surabaya, 4 Februari 2001

Sudah sekian tahun terdiam sepatu hitam bertali putih sol putih
berkombinasi biru muda menyala itu.
Di ufuk etalase toko megah itu aku berjongkok.
Seakan melambai minta dihampiri.

Tak ayal harus dipaksa kerja untuk cari uang
guna berupaya agar termilikilah sepatu pujaanku.

Aku ijabkan niatku bekerja di menguli bangunan menjadikan sebuah rumah
di kota sebrang dekat taman kota yang agak rindang.
Dan terkabul aku sebagai salah satu dari dua puluh kuli bangunan.

Tanpa sesal dan kesal aku mengucur peluh periang.
Kira-kira dua tahun baru selesai pembangunan rumah karena terhambat
mahalnya material bahan baku membuat rumah.
Nikmatnya tiada tara ketika kukantong honor terakhir, karena
yang satu ini berlampir bonus pak mandor ditegalkan kerjaku baik dan rapi.

Bergegas kupulang memacu laju kaki ke toko sepatu.
Mak!
Harganya naik! Uangku kurang! Aku bengong bingung.
Toleh kiri kanan bak ayam mabuk arak.
Lantas kularikan tubuh ini ke rumah paklik berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
paklik sedang pergi, dan bulik tak kuasa pinjammi uang.

Lantas kularikan tubuh ini ke rumah pakde berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
pakde sedang sakit dan seluruh bea konsentrasi pada pakde.

Lantas kularikan tubuh ini ke rumah pak RT berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
pak RT merenungi nasib diri diPHK. Tak etis kalau pinjam uang.

Lantas kularikan tubuh ini ke rumah pak guru berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
pak guru telah saja membeli sepeda baru, jadi uangnya agak sat.

Agak asa hampir putus
kularikan tubuh ini ke rumah adik berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Girang rianya adik punya, bersedia merela dipinjam barang
dua ribu saja.

Terakhir kali aku menyeribu langkah ke toko sepatu.
Tak pelak tiada terkira rianya
saat sukses tergenggam
sepatu hitam bertali putih, sol putih berkombinasi biru muda menyala.

Rabu, 21 Januari 2009

SEMBELIT PERANG


Surabaya, 21 Januari 2009

desing jelaga peluru menyalak santun,
menusuk nyeri perih di usus...
atas demi nama apapun,
logika perang tiada bagus!

Minggu, 18 Januari 2009

DI DERMAGA MENGUKIR CINTA



Surabaya, 30 Januari 1999

Ternampak satu ibu mengandung delapan bulan
bersama menggandeng anaknya di sela gelombang pasang
riuh rendah manusia pengungsian pada dermaga itu.
Telah kehilanganlah sang pencari nafkah
sehingga harus turut pergi merantau ke tanah tak tentu harapan.

Sang ibu nampak kusam keringat bercampur keluh.
Debu berbaur air mata diseka titik gerimis hujan mengutuk hari-hari.
Panas dingin hujan cerah berganti silih.
Baju menempel di tubuh basah pun kering berhari.

Bertalu dentuman mesiu peluru beriring jelaga
mesra makian teriakan laknat bergema hujatan
melambai kepergian mereka ke rantau entah ke mana

Bersimpuh ibu di pelataran pos penjagaan dermaga.
Lelah letihlah ia berjalan membawa sang janin di perutnya.
Berianglah bocahnya bertemu sebaya bersendau gurau
tah tahu terjadi apa hari-hari mereka. Main, hanya bernyanyi, dan riang.

Berlama terbuai angin sepoi kantuk serang mata berperih.
Terlelap di terik siang durjana itu.
Tak sadar apa terjadi di arah kampung.

Tiba-tiba berbondong berjuta lelaki buas garang kekar
kumis tebal membusung dada lebar badan legam
lantam amarah gemuruh guncang bumi berpijak.
Berjuta jumlah menggenggam pedang di kanan molotov di kiri.
Berhambur para pengungsi tak perlu komando
lari tunggang langgang selamatkan nyawa.
Bahkan sang para aparat seribu langkah
Jauhi serombongan buas liar.

Sang ibu terjaga tiba-tiba tak kunjung tahu harus ke mana hendak
langkah kaki membawa janin di perut dan sang bocah.

Melihat ratusan insan dicabut nyawa ditebas hidupnya.
Banjir darah mengalir deras melongsor pula tanah berpijak.
Tangis menatap rintih pedih pilu meramu satu
bersama gelombang pasang darah segar anyir memerah

Kesadaranpun lalu menyerta
mengucap harus segera hengkang dari tempat berlelap.
Kesigapannya segera berucap untuk menyambar sang bocah
berpaling dari bermain.

Apa daya,
sang ibu bertubuh ganda
mustahil lepas dari cengkraman maut terkutuk.

Apa upaya,
terseok-seok larinya
kala harus menggendong bocahnya.

Tanpa ditakdir,
tanpa nasib bicara.
Seorang tinggi kekar besar mencegat.
Di depan mata menghardik bagai badai kecam ibu
tersungkur

Dicabut pedang liar ganas bermata dua.
Diacung-acungkan ke langit seraya bersumpah serapah
menggelegar menghujat ibu tak berdaya.

Ditebasnya ke muka
leher ibu.
Diayun ke perut besar mengandung.
Dicabik-cabikkan perut besar.
Dikeluar paksakan jabang bayi.
Janin lemas terangkat ke langit menjulang bersumpah serapah bangga
ke tanah dihempaskan.
Dan bersama geramnya,
dilantak injak kepala janin menghambur darah merah segar
gempar bagai magma lahar merah memuntah amis menusuk nurani.

Sang bocah berteguh mengerang tangis keras
mungkin protes keras pada Pencipta semesata

Sang bocah berteguh mengerang tangis keras
tetap tak akan mengerti
bahwa pembantaian itu semata karena
beda warna.

Rabu, 14 Januari 2009

TAK ADA BERITA SEHARGA NYAWA!


Aku benar-benar ditampar Dewi Jtv waktu liputan pembongkaran rumah Rabu (14/1) lalu. Tamparan syahdu itu terasa dalam di hati, apalagi sampe bawa-bawa Sandra, anakku.

“Mas gak usah berlebihan gitu, kamu bisa jatuh! Ingat anakmu, Mas!” teriak Dewi yang berjarak hanya 30 senti dari tempatku berdiri.

Saat itu kami, beberapa jurnalis, rame-rame ambil gambar eskavator yang tengah menghancurkan bangunan dari atas sebuah atap. Atap rumah itu berbentuk flat, mungkin untuk menjemur pakaian.

Di pinggir atap memang diberi pagar. Tapi keamanannya benar-benar tidak terjamin! Gilanya, aku naik ke atas pagar supaya gambarku bagus.

Ketika Dewi berteriak dan menyebut anakku, kontan wajah Sandra terproyeksi jelas di depan mataku. Yang kelihatan waktu itu bukan eskavator yang meratakan bangunan, atau polisi yang tengah mengatur lalu lintas, tapi mimik muka Sandra yang sedang tertawa, nyegir, nangis, dan tidur.

Zap! Zap! Zap!
Melintas bebas seperti slide foto yang dipampang proyektor.

Untuk jurnalis tv freelance sebangsaku, satu berita tanyang dihargai Rp 250.000,-. Kalau gak ada yang ditayangkan, berarti ya gak bayaran. Maka dari itu jurnalis sejenisku selalu berusaha dapat gambar yang bagus dan dramatis.

Setelah dikaplok Dewi, langkah selanjutnya adalah turun dari pagar yang kunaiki. Dan merelakan mukaku dicaci maki produser, korda (koordinator daerah), bahkan kabiro (kepala biro) andaikata gambarku jelek. Kalau dimarahi, aku punya argumen, tempatnya tidak memungkinkan untuk mengambil gambar bagus. Berbahaya!

Trimakasih Dewi, Tuhan memberkatimu! Syalom elleikem wizr Jahhwe nazrm

Minggu, 11 Januari 2009

DEMI CINTA

Surabaya, 11 Januari 2009

Ibu ini sangat kasat mata kelihatan sekali berkerut rautnya,
keriput lengannya, masih bercoba bertahan.
Ibu ini kurus betul tubuhnya tipis,
dengan laut uban di kepala,
menghias wajah selalu pucat jadi hidupnya gamang.
Anaknya masih tinggal satu sedang menggantung.
Belum tuntas ilmunya, belum mentas hidupnya
Ibu ini hancur hatinya,
demi cinta

Terlihat yang anak ke pertama memuja kaya
Selalu pasti menghamba harta hanya bumi
Hasratnya bertahta gelimang bual
Anak itu hirau dia pada cara
asa jadi nyata mencengkeram lelaki
Laki harta, Laki punya
Laki kaya, Laki hampa

Anak itu kini ada yang kecil,
sebiji wijen sudah keluar.
Tak sudi membelai apalagi menimang.
Enggan cinta, bantah peduli

Ibu saja menggendong siang
Selembar, sereceh, sepeser …

Ibu timang kala terang
Sepeser, selembar, sereceh

Ibu mau memburuh terpaksa di anak sendiri
jadi keset menantu
jelma kain pel anak-menantu
siap jilati borok anak sendiri

gemetar tangan ibu menguras keringat,
sekeping uang durjana

Ibu ini hati badan mata kepala lutut
hatinya hancur berserak serpih
Demi cinta …



(maaf teman, kusayat punggungmu. kisah ibu memang benar ada...)

Rabu, 07 Januari 2009

JEJAK TERSAPU



Surabaya, 8 Januari 2000

Di rayapan ombak Selatan balik ke laut,
Di batasan dasar laut dan pasir kering.

Tertanam jejak kaki jejak-jejak kaki
Terpana jelas dua relief telapak.
Berbaris

Desir ombak kian menyapu
Ombak besar-ombak kecil
Panas surya menghangat angin
melena tubuh berjalan

Tertanam jejak kaki jejak-jejak kaki
Terpana jelas dua relief telapak.
Berbaris

Beriringan, tiga
Sirna diombak
Berurutan sejenak
Lenyap dirayap ombak ke laut

Tubuh kian berjalan kepala mencongak
Kepala tak mata perhati di belakang.
Mata tak dikacau jejak musnah
Jejak sirna melulu tak dalam
Tak dalam hati tumpul
Hati mati jiwa berhampa

Minggu, 04 Januari 2009

UPAH JURNALIS Rp 2,7 JUTA BEBAS SUAP!


Cukup menyedihkan melihat hasil survey yang kami—Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya—lakukan. Kami menemukan, masih ada perusahaan media yang mengupah wartawannya sebesar Rp 300.000,-. Busyet! Dengan uang segitu apa di Surabaya, dia bisa bertahan berapa hari ya? Uang Rp 50.000,- saja bisa habis dalam sehari. Terus kalau dia menerima “amplop” ya nggak heran.

Beberapa waktu lalu, Divisi Serikat Pekerja AJI Surabaya melakukan survey upah layak (uplay) minimun jurnalis terhadap wartawan yang bersatus karyawan tetap sebagai responden. Media tersebut masuk kriteria yang kami anggap cukup kredibel di masyarakat, berkantor tetap, punya wartawan, dan terbit/ siaran secara rutin. Karywan tetap memiliki hak-hak industrial yang jelas dan diatur dalam Undang-undang No 13 tahun 1999 tentang Ketenagakerjaan. Akhirnya kami temukan 25 media, dan mensurvey 30 jurnalis. Mengapa hanya 30?

Sebenarnya ada aturan ilmiah mengenai survey. Dari sebuah media, kami harus tahu dulu berapa jumlah wartawan tetapnya. Lalu kami mengambil sampling dengan rumus yang sudah ada. Tapi kenyataan tidak seindah mimpi.

Para pemilik media tidak membiarkan kami mengetahui kekuatan mereka. Apalagi sampai berapa upah yang mereka berikan untuk masing-masing wartawannya. Akhirnya kami memodifikasi teknis survey tersebut.

Jurnalis yang kami survey adalah mereka yang baru dipekerjakan, melakukan liputan, dan dibayar. Ditemukan jumlah 30 jurnalis sebagai responden.

Questionaire mirip survey upah minimum buruh. Serupa tapi tak sama. Sebut saja item “minuman selama liputan” dan “komunikasi (pulsa/ internet)”. Butir-butir ini cukup identik dengan dunia jurnalistik. Selain itu adalah biaya sandang yang jauh lebih tinggi dibanding yang dianggarkan buruh pabrikan.

Misalnya anggaran sepatu wartawan sebesar Rp 200.000,-. Jumlah ini cukup masuk akal, mengingat para wartawan butuh penampilan yang dapat meyakinkan narasumber, bahwa kami adalah representasi dari media tempat kami bekerja.

Setelah mengolah data, UPAH LAYAK MINIMUM JURNALIS SURABAYA:
Rp 2.741.673,-

Selain menyurvey harga pasar, kami juga membuat kisaran upah jurnalis berdasarkan media.
Cetak Rp 700.000,- s/d Rp 1.650.000,-
Televisi Rp 300.000,- s/d Rp 1.200.000,-
Radio Rp 730.000,- s/d Rp 1.500.000,-
Online Rp 700.000,- s/d Rp 1.250.000,-

Besaran uplay Rp 2.741.673,- belum termasuk berbagai asuransi yang harus dimiliki jurnalis dengan pemenuhan dari perusahaan. Kami juga sadar bahwa hasil survey ini masih banyak kekurangan.

Diantaranya, dengan jumlah tersebut, ternyata para jurnalis masih belum bisa:
1. mengadakan biaya perawatan dan mengganti oli sepeda motornya (kendaraan favorit
jurnalis).
2. beli kipas angin untuk kamar kos sehingga harus rela berpanas-panasan
3. beli tv dan radio untuk tetap mengikuti perkembangan berita
4. membeli laptop
atas dasar hal tersebut, AJI Surabaya merasa perlu mengadakan survey lanjutan untuk tahun 2010 depan.

Agar uplay 2009 terwujud, kami akan melakukan serangkaian roadshow ke sejumlah media. Selain itu kami juga mendesak para jurnalis untuk segera membentuk serikat pekerja. Serikat pekerja penting dalam memperjuangkan hak-hak jurnalis.
(baca juga: http://www.ajisurabaya.org)

TOLAK SUAP!
HIDUP JURNALIS JUJUR!


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com