Rabu, 21 Januari 2009

SEMBELIT PERANG


Surabaya, 21 Januari 2009

desing jelaga peluru menyalak santun,
menusuk nyeri perih di usus...
atas demi nama apapun,
logika perang tiada bagus!

Minggu, 18 Januari 2009

DI DERMAGA MENGUKIR CINTA



Surabaya, 30 Januari 1999

Ternampak satu ibu mengandung delapan bulan
bersama menggandeng anaknya di sela gelombang pasang
riuh rendah manusia pengungsian pada dermaga itu.
Telah kehilanganlah sang pencari nafkah
sehingga harus turut pergi merantau ke tanah tak tentu harapan.

Sang ibu nampak kusam keringat bercampur keluh.
Debu berbaur air mata diseka titik gerimis hujan mengutuk hari-hari.
Panas dingin hujan cerah berganti silih.
Baju menempel di tubuh basah pun kering berhari.

Bertalu dentuman mesiu peluru beriring jelaga
mesra makian teriakan laknat bergema hujatan
melambai kepergian mereka ke rantau entah ke mana

Bersimpuh ibu di pelataran pos penjagaan dermaga.
Lelah letihlah ia berjalan membawa sang janin di perutnya.
Berianglah bocahnya bertemu sebaya bersendau gurau
tah tahu terjadi apa hari-hari mereka. Main, hanya bernyanyi, dan riang.

Berlama terbuai angin sepoi kantuk serang mata berperih.
Terlelap di terik siang durjana itu.
Tak sadar apa terjadi di arah kampung.

Tiba-tiba berbondong berjuta lelaki buas garang kekar
kumis tebal membusung dada lebar badan legam
lantam amarah gemuruh guncang bumi berpijak.
Berjuta jumlah menggenggam pedang di kanan molotov di kiri.
Berhambur para pengungsi tak perlu komando
lari tunggang langgang selamatkan nyawa.
Bahkan sang para aparat seribu langkah
Jauhi serombongan buas liar.

Sang ibu terjaga tiba-tiba tak kunjung tahu harus ke mana hendak
langkah kaki membawa janin di perut dan sang bocah.

Melihat ratusan insan dicabut nyawa ditebas hidupnya.
Banjir darah mengalir deras melongsor pula tanah berpijak.
Tangis menatap rintih pedih pilu meramu satu
bersama gelombang pasang darah segar anyir memerah

Kesadaranpun lalu menyerta
mengucap harus segera hengkang dari tempat berlelap.
Kesigapannya segera berucap untuk menyambar sang bocah
berpaling dari bermain.

Apa daya,
sang ibu bertubuh ganda
mustahil lepas dari cengkraman maut terkutuk.

Apa upaya,
terseok-seok larinya
kala harus menggendong bocahnya.

Tanpa ditakdir,
tanpa nasib bicara.
Seorang tinggi kekar besar mencegat.
Di depan mata menghardik bagai badai kecam ibu
tersungkur

Dicabut pedang liar ganas bermata dua.
Diacung-acungkan ke langit seraya bersumpah serapah
menggelegar menghujat ibu tak berdaya.

Ditebasnya ke muka
leher ibu.
Diayun ke perut besar mengandung.
Dicabik-cabikkan perut besar.
Dikeluar paksakan jabang bayi.
Janin lemas terangkat ke langit menjulang bersumpah serapah bangga
ke tanah dihempaskan.
Dan bersama geramnya,
dilantak injak kepala janin menghambur darah merah segar
gempar bagai magma lahar merah memuntah amis menusuk nurani.

Sang bocah berteguh mengerang tangis keras
mungkin protes keras pada Pencipta semesata

Sang bocah berteguh mengerang tangis keras
tetap tak akan mengerti
bahwa pembantaian itu semata karena
beda warna.

Rabu, 14 Januari 2009

TAK ADA BERITA SEHARGA NYAWA!


Aku benar-benar ditampar Dewi Jtv waktu liputan pembongkaran rumah Rabu (14/1) lalu. Tamparan syahdu itu terasa dalam di hati, apalagi sampe bawa-bawa Sandra, anakku.

“Mas gak usah berlebihan gitu, kamu bisa jatuh! Ingat anakmu, Mas!” teriak Dewi yang berjarak hanya 30 senti dari tempatku berdiri.

Saat itu kami, beberapa jurnalis, rame-rame ambil gambar eskavator yang tengah menghancurkan bangunan dari atas sebuah atap. Atap rumah itu berbentuk flat, mungkin untuk menjemur pakaian.

Di pinggir atap memang diberi pagar. Tapi keamanannya benar-benar tidak terjamin! Gilanya, aku naik ke atas pagar supaya gambarku bagus.

Ketika Dewi berteriak dan menyebut anakku, kontan wajah Sandra terproyeksi jelas di depan mataku. Yang kelihatan waktu itu bukan eskavator yang meratakan bangunan, atau polisi yang tengah mengatur lalu lintas, tapi mimik muka Sandra yang sedang tertawa, nyegir, nangis, dan tidur.

Zap! Zap! Zap!
Melintas bebas seperti slide foto yang dipampang proyektor.

Untuk jurnalis tv freelance sebangsaku, satu berita tanyang dihargai Rp 250.000,-. Kalau gak ada yang ditayangkan, berarti ya gak bayaran. Maka dari itu jurnalis sejenisku selalu berusaha dapat gambar yang bagus dan dramatis.

Setelah dikaplok Dewi, langkah selanjutnya adalah turun dari pagar yang kunaiki. Dan merelakan mukaku dicaci maki produser, korda (koordinator daerah), bahkan kabiro (kepala biro) andaikata gambarku jelek. Kalau dimarahi, aku punya argumen, tempatnya tidak memungkinkan untuk mengambil gambar bagus. Berbahaya!

Trimakasih Dewi, Tuhan memberkatimu! Syalom elleikem wizr Jahhwe nazrm

Minggu, 11 Januari 2009

DEMI CINTA

Surabaya, 11 Januari 2009

Ibu ini sangat kasat mata kelihatan sekali berkerut rautnya,
keriput lengannya, masih bercoba bertahan.
Ibu ini kurus betul tubuhnya tipis,
dengan laut uban di kepala,
menghias wajah selalu pucat jadi hidupnya gamang.
Anaknya masih tinggal satu sedang menggantung.
Belum tuntas ilmunya, belum mentas hidupnya
Ibu ini hancur hatinya,
demi cinta

Terlihat yang anak ke pertama memuja kaya
Selalu pasti menghamba harta hanya bumi
Hasratnya bertahta gelimang bual
Anak itu hirau dia pada cara
asa jadi nyata mencengkeram lelaki
Laki harta, Laki punya
Laki kaya, Laki hampa

Anak itu kini ada yang kecil,
sebiji wijen sudah keluar.
Tak sudi membelai apalagi menimang.
Enggan cinta, bantah peduli

Ibu saja menggendong siang
Selembar, sereceh, sepeser …

Ibu timang kala terang
Sepeser, selembar, sereceh

Ibu mau memburuh terpaksa di anak sendiri
jadi keset menantu
jelma kain pel anak-menantu
siap jilati borok anak sendiri

gemetar tangan ibu menguras keringat,
sekeping uang durjana

Ibu ini hati badan mata kepala lutut
hatinya hancur berserak serpih
Demi cinta …



(maaf teman, kusayat punggungmu. kisah ibu memang benar ada...)

Rabu, 07 Januari 2009

JEJAK TERSAPU



Surabaya, 8 Januari 2000

Di rayapan ombak Selatan balik ke laut,
Di batasan dasar laut dan pasir kering.

Tertanam jejak kaki jejak-jejak kaki
Terpana jelas dua relief telapak.
Berbaris

Desir ombak kian menyapu
Ombak besar-ombak kecil
Panas surya menghangat angin
melena tubuh berjalan

Tertanam jejak kaki jejak-jejak kaki
Terpana jelas dua relief telapak.
Berbaris

Beriringan, tiga
Sirna diombak
Berurutan sejenak
Lenyap dirayap ombak ke laut

Tubuh kian berjalan kepala mencongak
Kepala tak mata perhati di belakang.
Mata tak dikacau jejak musnah
Jejak sirna melulu tak dalam
Tak dalam hati tumpul
Hati mati jiwa berhampa

Minggu, 04 Januari 2009

UPAH JURNALIS Rp 2,7 JUTA BEBAS SUAP!


Cukup menyedihkan melihat hasil survey yang kami—Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya—lakukan. Kami menemukan, masih ada perusahaan media yang mengupah wartawannya sebesar Rp 300.000,-. Busyet! Dengan uang segitu apa di Surabaya, dia bisa bertahan berapa hari ya? Uang Rp 50.000,- saja bisa habis dalam sehari. Terus kalau dia menerima “amplop” ya nggak heran.

Beberapa waktu lalu, Divisi Serikat Pekerja AJI Surabaya melakukan survey upah layak (uplay) minimun jurnalis terhadap wartawan yang bersatus karyawan tetap sebagai responden. Media tersebut masuk kriteria yang kami anggap cukup kredibel di masyarakat, berkantor tetap, punya wartawan, dan terbit/ siaran secara rutin. Karywan tetap memiliki hak-hak industrial yang jelas dan diatur dalam Undang-undang No 13 tahun 1999 tentang Ketenagakerjaan. Akhirnya kami temukan 25 media, dan mensurvey 30 jurnalis. Mengapa hanya 30?

Sebenarnya ada aturan ilmiah mengenai survey. Dari sebuah media, kami harus tahu dulu berapa jumlah wartawan tetapnya. Lalu kami mengambil sampling dengan rumus yang sudah ada. Tapi kenyataan tidak seindah mimpi.

Para pemilik media tidak membiarkan kami mengetahui kekuatan mereka. Apalagi sampai berapa upah yang mereka berikan untuk masing-masing wartawannya. Akhirnya kami memodifikasi teknis survey tersebut.

Jurnalis yang kami survey adalah mereka yang baru dipekerjakan, melakukan liputan, dan dibayar. Ditemukan jumlah 30 jurnalis sebagai responden.

Questionaire mirip survey upah minimum buruh. Serupa tapi tak sama. Sebut saja item “minuman selama liputan” dan “komunikasi (pulsa/ internet)”. Butir-butir ini cukup identik dengan dunia jurnalistik. Selain itu adalah biaya sandang yang jauh lebih tinggi dibanding yang dianggarkan buruh pabrikan.

Misalnya anggaran sepatu wartawan sebesar Rp 200.000,-. Jumlah ini cukup masuk akal, mengingat para wartawan butuh penampilan yang dapat meyakinkan narasumber, bahwa kami adalah representasi dari media tempat kami bekerja.

Setelah mengolah data, UPAH LAYAK MINIMUM JURNALIS SURABAYA:
Rp 2.741.673,-

Selain menyurvey harga pasar, kami juga membuat kisaran upah jurnalis berdasarkan media.
Cetak Rp 700.000,- s/d Rp 1.650.000,-
Televisi Rp 300.000,- s/d Rp 1.200.000,-
Radio Rp 730.000,- s/d Rp 1.500.000,-
Online Rp 700.000,- s/d Rp 1.250.000,-

Besaran uplay Rp 2.741.673,- belum termasuk berbagai asuransi yang harus dimiliki jurnalis dengan pemenuhan dari perusahaan. Kami juga sadar bahwa hasil survey ini masih banyak kekurangan.

Diantaranya, dengan jumlah tersebut, ternyata para jurnalis masih belum bisa:
1. mengadakan biaya perawatan dan mengganti oli sepeda motornya (kendaraan favorit
jurnalis).
2. beli kipas angin untuk kamar kos sehingga harus rela berpanas-panasan
3. beli tv dan radio untuk tetap mengikuti perkembangan berita
4. membeli laptop
atas dasar hal tersebut, AJI Surabaya merasa perlu mengadakan survey lanjutan untuk tahun 2010 depan.

Agar uplay 2009 terwujud, kami akan melakukan serangkaian roadshow ke sejumlah media. Selain itu kami juga mendesak para jurnalis untuk segera membentuk serikat pekerja. Serikat pekerja penting dalam memperjuangkan hak-hak jurnalis.
(baca juga: http://www.ajisurabaya.org)

TOLAK SUAP!
HIDUP JURNALIS JUJUR!


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com