Rabu, 03 Oktober 2012

TERAS SADIS


Surabaya 2 Oktober 2012
 

Sambil mengantuk dia mencoba terus jaga
Dahinya hampir dekati lutut yang tekuk
Terhampas tak pasrah di teras swalayan itu

Liurnya menetes pelan tanpa sadar tahu
Merambat pelan dari mulut meresap ke bajunya

Giginya dikeroposi usia sudah habis
Bahkan sulit menahan liur menetes di bibir bawahnya yang tebal
Pecah-pecah bibirnya dibakar panas Surabaya

Dia bukan pengemis
Dia orang kuat
Hanya melarat
Tak seberuntung kita yang bisa mandi kapan saja
Yang bisa bercanda semua saat

Kantuknya sejenak ditahan untuk mengintip sesaat
Supaya nampak siap kalau ada yang mau kerupuknya

Dia tak sudi ajal datang kala sedang tak berguna
Meski ajal bukan perlu ditakut baginya

Dia orang berguna
Dia orang terpandang, seharusnya
Banyak orang tidak memandang

Sambil menyapu lirik di ekor mata pengunjung keluar masuk
Ada berjalan. Ada bersepeda motor. Ada bermobil
Dia cuma beharap krupuknya laku

Tak ada ingin punya mobil bahkan yang melintas di pikirnya
Dia paham hasratnya tak perlu sampai ke sana
Cukup menghabiskan jualannya untuk menyambung nyawa
Untuk bisa makan malam ini cukuplah

Jipang
Krupuk ikan
Kuku macan
Masih dua karung

Minggu, 08 Januari 2012

pengalaman pelatihan jurnalistik untuk tuna netra



Desember 2010 saya diminta kawan-kawan dari Lembaga Pemberdayaan Tuna Netra Surabaya untuk memberi pelatihan jurnalistik untuk sejumlah siswa SMP & SMA tuna netra. Saya langsung menyanggupi. Selain menantang, saya juga merasa bertanggung jawab membagi ilmu yang saya miliki. Saya juga merasa terpanggil untuk membantu kawan-kawan tuna netra untuk memberdayakan diri mereka sendiri. Dalam pelatihan ini, para orang tua/ wali diminta mendampingi anak-anak mereka. Tujuannya supaya para orang tua/ wali tahu apa yang dilakukan anak mereka. Bagi saya ini unik tapi masuk akal. Karena dari sejumlah pelatihan yang saya bimbing, orang tua tidak pernah dilibatkan.

Dulu, (kalau tidak salah) sekitar tahun 2006 kawan Iman pernah membantu para tuna netra memberi pelatihan jurnalistik. Usai memberi pelatihan Iman mengaku agak bingung waktu harus menjelaskan piramida terbalik. Hal yang sama saya alami meskipun beberapa kali saya sempat memberi pelatihan jurnalistik dasar untuk mahasiswa. Tapi khusus untuk teman-teman tuna netra, saya benar-benar ditantang dan diuji.

Awalnya saya minta para peserta untuk membayangkan sebuah segitiga sama kaki dengan sudut yang terkecil berada di bawah. Saya meminta ini karena saya tahu bahwa mereka juga belajar geometri di sekolah. Semua mengaku tahu bentuk segitiga sama kaki. Tapi waktu saya minta mereka untuk menempatkan sudut terkecil di bawah, semua terdiam. Tidak menjawab waktu saya tanya apakah mereka paham. Giliran saya yang terdiam karena bingung (hehehe).

Lalu saya memikirkan sesuatu yang pasti mereka pahami dan tidak akan pernah mereka tinggalkan. Celana Dalam. Ya! Saya minta mereka membayangkan celana dalam dengan bentuknya yang khas. Yaitu bidang lebar di atas dengan bidang bawahnya yang semakin mengecil. Saya sampaikan bentuk piramida terbalik kira-kira seperti itu. Saya lupa dulu bagaimana kawan Iman menjelaskan piramida terbalik. Ketika saya katakan itu, semua tertawa tidak terkecuali para orang tua yang mendampingi. Saya cuek saja, karena saya terdorong untuk berhasil menransfer ilmu kepada mereka.

Para peserta juga saya ajari untuk melakukan observasi. Bagi jurnalis dengan kondisi fisik normal (tapi jiwa belum tentu hehe) melakukan observasi sangat penting untuk melatih tidak memasukkan opini ke dalam tulisan. Observasi biasanya kita lakukan dengan semua panca indera terutama mata. Sedangkan para jurnalis tuna netra juga harus melakukan observasi. Tapi dilakukan dengan meraba menggunakan tangan. Idenya sama dengan membaca tulisan braille.

Saya membagian berbagai obyek kepada mereka. Masing-masing peserta harus mengobservasi obyek yang berbeda. Dalam melakukan observasi, saya minta mereka untuk diam tanpa bicara supaya tidak saling menggangu. Setelah selesai, satu persatu harus menggambarkan benda apa yang diamatinya. Saya merasakan, hasil observasi mereka berbeda dengan observasi kita. Karena mereka hanya bisa meraba, maka hasilnya pasti beda dengan kita. Misalnya saja, mereka tidak akan mampu mengatakan apa warna benda yang mereka amati.

Usai pelatihan, saya merasakan ejakulasi batin. Sangat memuaskan diikuti ekstase sangat tinggi dengan perasaan bangga tiada tara. Saya bangga boleh berbuat sesuatu untuk kawan-kawan tuna netra. Saya cuma ingin berbagi pengalaman saja tanpa ada hasrat menggurui teman-teman. Terimakasih teman-teman tuna netra. Terimakasih AJI.

Rabu, 04 Januari 2012

JIKA TIADA



Surabaya, 5 Januari 2012

Jika tiada warna di dunia, tiada cantik dan daya
Jika tiada warna di dunia, tiada pula penghapusan manusia

Jika tiada corak kepala, tiada indah wajah semesta
Jika tiada corak kepala, tiada pula pembantaian manusia

Jika tiada bendera berkibar, tiada gagah bangsa berkobar
Jika tiada bendera berkibar, tiada pula dendam terbakar

Jika tiada bangsa berdiri, tiada elok para negeri
Jika tiada bangsa berdiri, tiada pula bangsa diakhiri

Jika tiada dirimu, Sobat
Tiada hidupku indah nuansa

Jumat, 22 Juli 2011

QORIAH



Surabaya, 21 Juli 2011

Syair sakral mengalir dari bibir mungil si Qoriah
Dia bersimpuh di panggung karpet merah istigosah
Pengajian Sangu Romadhon

Wajahnya malu
Mengintip dalam jilbab hitam
Matanya tersipu dalam sajak suci mengalun hangat
Dadaku berdegub kencang
Suaranya lantang menantang para pengecut
Nadanya tegas menghantam para penakut

Aku ditampar
Mataku tak segan berlinang bersama cueknya umat
Tak mau kedipan menghalangi nikmatnya diseka
Telinga hati menangkap semua pesan Qoriah

Hukum suci itu terlentang berwibawa di atas pangkuannya
Tangannya memegang ringan
Erat menahan

Tanpa air mata
Artinya dia tegar
Sang Qoriah menghajarku

Aku tidak tau arti Sang Sabda Suci
Aku tak paham maknanya
Aku tak mengerti pesannya
Tapi aku tau arti Sang Sabda Suci dari sang Qoriah
Tapi aku paham maknanya dari sang Qoriah
Tapi aku mengerti pesannya dari sang Qoriah

Maaf, Qoriahku
Aku terlalu menelanjangimu
Ketika firman suci itu

Simaklah lantun ini
Dari hati sang pelacur

Jumat, 04 Maret 2011

TERSENGAL-SENGAL



Surabaya, 4 Maret 2011

sempit ini belum juga lapang
sejak purnama lalu menyerang
belum juga lengang
masih berhinggap, belum hilang

aku benar tercabik
penuh murka tapi api tak bisa dipantik
tiada bagus pun adanya tanpa apik
hilang sudah semua yang cantik

tiap malam datang
dada kian sempit
batuk berderap
nafas tersengal

betapa jiwa tak ronta
buah hati juga sama lagi nestapa
aku sekarang tiada harta
besok juga masih pastinya tiada

sepertinya semangat habis
tak tega lihat tulang rusukku mengempis
lubang-lubang ini belum sanggup kulapis
makin lama kian tipis

tiap malam datang
dada kian sempit
batuk berderap
nafas tersengal

Rabu, 23 Februari 2011

PENTOL LEMES



Surabaya, 22 januari 2011

pentol-pentol sudah siap dari subuh
sausnya bisa cepat buatnya
yang paling penting memang pentol sama tahu

Sujono sudah seharian keliling Surabaya
Sujono selalu ngontel muteri Bulak, Genteng, Petemon
Sujono berhasil menjual
sedikit
di sekolahan
di kampung
di samping TP

Sujono bekalnya cuma mandi sama sikat gigi
topi kalep selalu mancep di kepala sedikit nutupi mata

Hari ini pentolnya banyak belum habis
masih numpuk dalam dandang dan
dalam kresek di laci

Sujono sudah capek
mukanya sudah kumal seperti baju celana panjangnya
2 hari belum ganti
Kakinya punggungnya lehernya juga lemas dihantam Surabaya

Sepeda rombongnya dijagrang samping dekat buk
di Petemon Kuburan

Sujono duduk di buk
topinya masih nangkring di kepala

tertunduk
Sujono terlelap sejenak
letihnya menang atas tuntutan marketing pentol

pentolnya masih banyak
belum habis

Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com