Minggu, 04 Januari 2009

UPAH JURNALIS Rp 2,7 JUTA BEBAS SUAP!


Cukup menyedihkan melihat hasil survey yang kami—Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya—lakukan. Kami menemukan, masih ada perusahaan media yang mengupah wartawannya sebesar Rp 300.000,-. Busyet! Dengan uang segitu apa di Surabaya, dia bisa bertahan berapa hari ya? Uang Rp 50.000,- saja bisa habis dalam sehari. Terus kalau dia menerima “amplop” ya nggak heran.

Beberapa waktu lalu, Divisi Serikat Pekerja AJI Surabaya melakukan survey upah layak (uplay) minimun jurnalis terhadap wartawan yang bersatus karyawan tetap sebagai responden. Media tersebut masuk kriteria yang kami anggap cukup kredibel di masyarakat, berkantor tetap, punya wartawan, dan terbit/ siaran secara rutin. Karywan tetap memiliki hak-hak industrial yang jelas dan diatur dalam Undang-undang No 13 tahun 1999 tentang Ketenagakerjaan. Akhirnya kami temukan 25 media, dan mensurvey 30 jurnalis. Mengapa hanya 30?

Sebenarnya ada aturan ilmiah mengenai survey. Dari sebuah media, kami harus tahu dulu berapa jumlah wartawan tetapnya. Lalu kami mengambil sampling dengan rumus yang sudah ada. Tapi kenyataan tidak seindah mimpi.

Para pemilik media tidak membiarkan kami mengetahui kekuatan mereka. Apalagi sampai berapa upah yang mereka berikan untuk masing-masing wartawannya. Akhirnya kami memodifikasi teknis survey tersebut.

Jurnalis yang kami survey adalah mereka yang baru dipekerjakan, melakukan liputan, dan dibayar. Ditemukan jumlah 30 jurnalis sebagai responden.

Questionaire mirip survey upah minimum buruh. Serupa tapi tak sama. Sebut saja item “minuman selama liputan” dan “komunikasi (pulsa/ internet)”. Butir-butir ini cukup identik dengan dunia jurnalistik. Selain itu adalah biaya sandang yang jauh lebih tinggi dibanding yang dianggarkan buruh pabrikan.

Misalnya anggaran sepatu wartawan sebesar Rp 200.000,-. Jumlah ini cukup masuk akal, mengingat para wartawan butuh penampilan yang dapat meyakinkan narasumber, bahwa kami adalah representasi dari media tempat kami bekerja.

Setelah mengolah data, UPAH LAYAK MINIMUM JURNALIS SURABAYA:
Rp 2.741.673,-

Selain menyurvey harga pasar, kami juga membuat kisaran upah jurnalis berdasarkan media.
Cetak Rp 700.000,- s/d Rp 1.650.000,-
Televisi Rp 300.000,- s/d Rp 1.200.000,-
Radio Rp 730.000,- s/d Rp 1.500.000,-
Online Rp 700.000,- s/d Rp 1.250.000,-

Besaran uplay Rp 2.741.673,- belum termasuk berbagai asuransi yang harus dimiliki jurnalis dengan pemenuhan dari perusahaan. Kami juga sadar bahwa hasil survey ini masih banyak kekurangan.

Diantaranya, dengan jumlah tersebut, ternyata para jurnalis masih belum bisa:
1. mengadakan biaya perawatan dan mengganti oli sepeda motornya (kendaraan favorit
jurnalis).
2. beli kipas angin untuk kamar kos sehingga harus rela berpanas-panasan
3. beli tv dan radio untuk tetap mengikuti perkembangan berita
4. membeli laptop
atas dasar hal tersebut, AJI Surabaya merasa perlu mengadakan survey lanjutan untuk tahun 2010 depan.

Agar uplay 2009 terwujud, kami akan melakukan serangkaian roadshow ke sejumlah media. Selain itu kami juga mendesak para jurnalis untuk segera membentuk serikat pekerja. Serikat pekerja penting dalam memperjuangkan hak-hak jurnalis.
(baca juga: http://www.ajisurabaya.org)

TOLAK SUAP!
HIDUP JURNALIS JUJUR!

6 komentar:

金陵热线棋牌游戏中心 mengatakan...

Good Blog, I think I want to find me, I will tell my other friends, on all

LOMBOK! mengatakan...

thx! but i can't read Chinese character. sorry

lamendol mengatakan...

Yang penting sebenanya asuransi, mulai kesehatan, keluarga dan pensiun. Kalau itu semua terpenuhi ..kerja jadi tenang.

LOMBOK! mengatakan...

2,7 juta belum termasuk asuransi kesehatan, laka, jiwa, keluarga, dan penisun.

www.jsfishnet.com mengatakan...

If you could give more detailed information on some, I think it is even more perfect, and I need to obtain more information!
decorative fishing net

superior mengatakan...

It seems my language skills need to be strengthened, because I totally can not read your information, but I think this is a good BLOG
jordan shoes


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com