Minggu, 18 Januari 2009

DI DERMAGA MENGUKIR CINTA



Surabaya, 30 Januari 1999

Ternampak satu ibu mengandung delapan bulan
bersama menggandeng anaknya di sela gelombang pasang
riuh rendah manusia pengungsian pada dermaga itu.
Telah kehilanganlah sang pencari nafkah
sehingga harus turut pergi merantau ke tanah tak tentu harapan.

Sang ibu nampak kusam keringat bercampur keluh.
Debu berbaur air mata diseka titik gerimis hujan mengutuk hari-hari.
Panas dingin hujan cerah berganti silih.
Baju menempel di tubuh basah pun kering berhari.

Bertalu dentuman mesiu peluru beriring jelaga
mesra makian teriakan laknat bergema hujatan
melambai kepergian mereka ke rantau entah ke mana

Bersimpuh ibu di pelataran pos penjagaan dermaga.
Lelah letihlah ia berjalan membawa sang janin di perutnya.
Berianglah bocahnya bertemu sebaya bersendau gurau
tah tahu terjadi apa hari-hari mereka. Main, hanya bernyanyi, dan riang.

Berlama terbuai angin sepoi kantuk serang mata berperih.
Terlelap di terik siang durjana itu.
Tak sadar apa terjadi di arah kampung.

Tiba-tiba berbondong berjuta lelaki buas garang kekar
kumis tebal membusung dada lebar badan legam
lantam amarah gemuruh guncang bumi berpijak.
Berjuta jumlah menggenggam pedang di kanan molotov di kiri.
Berhambur para pengungsi tak perlu komando
lari tunggang langgang selamatkan nyawa.
Bahkan sang para aparat seribu langkah
Jauhi serombongan buas liar.

Sang ibu terjaga tiba-tiba tak kunjung tahu harus ke mana hendak
langkah kaki membawa janin di perut dan sang bocah.

Melihat ratusan insan dicabut nyawa ditebas hidupnya.
Banjir darah mengalir deras melongsor pula tanah berpijak.
Tangis menatap rintih pedih pilu meramu satu
bersama gelombang pasang darah segar anyir memerah

Kesadaranpun lalu menyerta
mengucap harus segera hengkang dari tempat berlelap.
Kesigapannya segera berucap untuk menyambar sang bocah
berpaling dari bermain.

Apa daya,
sang ibu bertubuh ganda
mustahil lepas dari cengkraman maut terkutuk.

Apa upaya,
terseok-seok larinya
kala harus menggendong bocahnya.

Tanpa ditakdir,
tanpa nasib bicara.
Seorang tinggi kekar besar mencegat.
Di depan mata menghardik bagai badai kecam ibu
tersungkur

Dicabut pedang liar ganas bermata dua.
Diacung-acungkan ke langit seraya bersumpah serapah
menggelegar menghujat ibu tak berdaya.

Ditebasnya ke muka
leher ibu.
Diayun ke perut besar mengandung.
Dicabik-cabikkan perut besar.
Dikeluar paksakan jabang bayi.
Janin lemas terangkat ke langit menjulang bersumpah serapah bangga
ke tanah dihempaskan.
Dan bersama geramnya,
dilantak injak kepala janin menghambur darah merah segar
gempar bagai magma lahar merah memuntah amis menusuk nurani.

Sang bocah berteguh mengerang tangis keras
mungkin protes keras pada Pencipta semesata

Sang bocah berteguh mengerang tangis keras
tetap tak akan mengerti
bahwa pembantaian itu semata karena
beda warna.

Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com