Selasa, 19 Mei 2009

Kenapa Mereka Jahat, Mak? (In Memoriam SITI KHOIYAROH)


oleh: Eddy Prasetyo - Reporter suarasurabaya.net

Serasa baru kemarin aku membelikannya tas baru untuknya sekolah. Ya, memang bulan Juni depan dia akan masuk taman kanak-kanak di dekat rumah kami. Ini adalah awal buat dia menapak kejamnya dunia, seperti yang aku dan MAT NAKI suamiku, alami. Yang penting dia jangan seperti aku, yang tiap harinya harus jual pentol di Boulevard WTC. Aku kepingin YAROH anakku jadi nyai...

Terbayang dia nanti besarnya seperti AA' GYM...haha...AA' GYM perempuan tapinya. Bakat-bakat jadi nyai sebenarnya sudah aku endus sejak dia mulai pintar bicara. Untuk kemampuannya yang satu ini, banyak kerabat dan tetanggaku jadi jatuh hati pada YAROH. Pernah satu hari kami setengah mati mencarinya. Namanya anak satu-satunya, saya pikir dia hilang. Ternyata dia main ke rumah tetangga kami yang agak jauh...katanya dia sangat menggemaskan. Sampai-sampai tetangga kami itu lupa mengembalikan YAROHku ke rumahnya.

Rumah kontrakan kami di Jl. Kedung Klinter IV/33 memang sangat sederhana. Bahkan kalau mau dibilang tidak terlalu nyaman untuk ditinggali. Tapi tidak mengapa. Yang penting kami bisa hidup bahagia bersama suamiku dan YAROH. Kami bersyukur punya tetangga yang baik hati. Begitu juga kerabat kami, Mbak MASRU'AH. Dia sudah seperti ibu kedua buat YAROH. Kalau kami bekerja jualan pentol, YAROH sering kami titipkan pada mereka.

Tapi kejadian 11 Mei 2009 seminggu lalu mungkin jadi hari apesnya buat YAROH. Entah kenapa aku ingin sekali membawa YAROH bersama kami jualan pentol. Tidak ada sedikitpun firasat hari itu akan berakhir buruk. Yang penting, seperti hari biasanya, kami harus membawa pulang uang untuk membayar kontrakan dan tentunya, uang tabungan untuk YAROH sekolah.

Astaghfirullah, aku tidak mau mengingat kejadian itu. Terlalu pedih rasanya. Terlalu menyakitkan...melihat anakku mengelupas kulitnya terkena siraman kuah pentol daganganku. Aku sendiri terlalu panik saat itu menghindari mereka yang dengan sangat buas mengejar kami. Aku takut satu-satunya rombong kami mencari nafkah diambil mereka. Menyesal rasanya meletakkan YAROH di di atas rombongku saat itu. Tapi mengapa mereka melakukannya? Mengapa mereka mengambil anakku satu-satunya? Mengapa mereka tidak memberi kami kesempatan untuk menyekolahkan YAROH?

Saat kawan seperjuangan kami berdagang di Boulevard WTC melarikan sepeda motornya ke RSU dr Soetomo dengan YAROH di pangkuanku, aku hanya bisa mengingat dia berkata lirih, "Mak....Panas, Mak!?" Hati ibu mana yang bisa tahan mendengar putri semata wayangnya seperti ini. Bahkan pedihnya air panas yang menyiram tanganku tak lagi kurasakan.

Terus terang, aku sangat takut kehilangan YAROH saat itu. Aku cuma bisa berdoa, seperti yang diajarkan ibu kalau aku sedang kesusahan. Apapun doa yang kuhapal kubaca saat itu. Kiranya Tuhan mendengar. Hari demi hari kami lalui di RSU dr Soetomo, aku dan suami tak bisa lagi konsentrasi bekerja. Mau bekerja bagaimana? Wong rombongku sudah terbakar. Tapi Alhamdulillah Pemkot Surabaya membebaskan biaya berobat YAROH.

Sedih rasanya melihat YAROH dalam kondisi tak berdaya seperti ini. Seperti mumi saja dia. Tubuhnya dibebat hanya bersisa mata, lubang hidung, dan mulut. Kata dokter, YAROH menderita luka bakar 67%. Aku tidak tahu angka-angka itu, tapi melihatnya saja aku sudah tahu itu sungguh parah.

Saat dirawat di unit luka bakar rumah sakit ini, YAROH beberapa kali dikunjungi tetangga dan beberapa kerabat kami dari Sampang, Madura. Senangnya bukan main dia. Sempat beberapa kali dia berceloteh padaku. Yang paling kuingat adalah pertanyaan ini : "Mak, kenapa polisi-polisi (Satpol PP) itu mau tangkap emak? Mereka jahat ya, Mak? Dibeleh aja Mak mereka!" Mau menangis saja kalau mengingat dia berkata itu.

Sekarang aku sudah tidak punya YAROH lagi. Tidak tahu ke mana saya mengadu. Ke Tuhan saja mungkin cukup. Andai saja kupunya kekuatan memutar kembali waktu, tidak akan kubawa YAROH waktu itu jualan pentol. Tapi sudahlah....semuanya sudah terjadi. Aku sudah pasrah. Aku terlalu miskin untuk mengadu ke mereka. Mereka terlalu kuat, punya uang untuk membeli apa saja, punya kepalan tangan untuk menonjok siapa saja. Punya kekuasaan untuk mengubah segalanya, termasuk mengubah nasibku. Aku terlalu miskin untuk bisa berbuat sesuatu, meskipun untuk YAROH sekalipun yang saat ini sudah menyatu dengan bumi.

Aku hanya punya tas sekolahnya yang kubeli beberapa hari lalu untuk mengingat kata-katanya : "Mak, kenapa polisi-polisi (Satpol PP) itu mau tangkap emak? Mereka jahat ya, Mak?

Selamat jalan, YAROH, aku yakin kamu di surga sana jadi nyai terhebat. Lebih hebat dari AA' GYM sekalipun. Kami semua sayang kamu....:(

In Memoriam :
SITI KHOIYAROH gadis 4 tahun yang meninggal Senin, 18 Mei 2009 pukul 15.25 WIB. Ia meninggal setelah seminggu dirawat di unit luka bakar RSU dr Soetomo akibat luka bakar tersiram kuah mendidih pentol saat berlangsungnya penertiban PKL Boulevard WTC.

foto: Eddy Prasetyo dan Andreas Wicaksono

4 komentar:

jojo mengatakan...

luar biasa, bro..

terharu, aku..

Panduimut mengatakan...

Air mataku kembali menetes saat membaca kisah ini. Ya Allah, aku tahu ini yang terbaik bagi Siti Khoyaroh karena dia sekarang berada di tempat terbaik di sisi-MU.

LOMBOK! mengatakan...

to Jojo: yg luar biasa si Eddy. aku minta ijin dia utk muat di blogku

LOMBOK! mengatakan...

to Pandu: aku sepakat dengan Oryza A. Wirawan, wartawan beritajatim.com pada kolom sorotan beritajatim.com. dia bilang sebaiknya kita jangan menangisi kepergian Yaroh. karena dia sekarang jauh lebihbahagia daripada kita yg masih terkekang dgn kefanaan.

tapi kita menangisi harapan2 yg tiba2 dipaksa hilang.

aku juga menangis baca tulisan ini. apalagi selama 1 minggu penuh aku dan teman2 nge-running berita ini.

Allahu Akbar!


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com