Selasa, 10 Maret 2009

Barang Antik 1938 di Atas Rel Baja



Pernah terbayang bagaimana mengadakan resepsi pernikahan di dalam gerbong? Atau mempresentasikan proposal di dalam kereta api yang berjalan? Jika itu salah satu impian Anda, percayalah akan segera terwujud.

PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 8, Surabaya, akan segera meluncurkan kereta api wisata. Sebagai persiapan, mereka melakukan uji coba perjalanan, dari Surabaya ke Banyuwangi.

Meski terlihat antik dan terkesan uzur, namun 2 gerbong kereta api buatan tahun 1938 ini tampak masih kekar. Betapa tidak, seluruh dinding kedua gerbong terbuat dari plat baja 3 milimeter tanpa sambungan. Apalagi dengan baju barunya yang bercorak hijau dengan kombinasi kuning gading.

Roda-roda hitamnya terlihat masih kekar dengan disokong pegas ulir yang tahan bantingan. Ini membuat gerbong yang sudah berusia 70 tahun, masih mampu melesat di atas rel baja dengan kecepatan hingga 85 kilometer per jam.

Tim Balai Yasa Traksi dari Daop 8 Surabaya menamai dua gerbong kembar identik ini, Djoko Kendil 1 dan 2. Mereka mempertahankan bentuk asli gerbong bernomor IW 38201 dan IW 38212 ini. Tapi interior gerbong dirombak total, untuk kepentingan kenyamanan dan komersial.

Kata Sugeng Priyono, Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, ada dua alasan mereka memberi nama Djoko Kendil. Yang pertama, karena hampir semua kereta dan lokomotif yang dikelola Balai Yasa Traksi bernama depan Djoko. Ada Djoko Sembung, Djoko Tingkir, dan beberapa Djoko lainnya. Suatu kebetulan, kepala Balai Yasa Traksi saat ini juga bernama depan Djoko, yaitu Djoko Haryono.

Pemberian nama Djoko Kendil juga berdasar pada cerita rakyat Djoko Kendil. Cerita tersebut berkisah tentang seorang ksatria tampan dan baik hati yang menyamar sebagai seorang buruk rupa.

Dari luar, kedua gerbong Djoko Kendil mungkin nampak ganjil, tapi di dalamnya nuansa mewah akan menyapa ramah. Di dalam gerbong satu, terdapat ruang rapat dengan dilengkapi televisi LCD 36 inchi. Penumpang juga dapat memesan makanan dan minuman pada minibar yang ada.

Sedangkan gerbong kedua, disediakan tempat duduk untuk menikmati pemandangan selama perjalanan. Di bagian belakang germong ini juga disediakan tempat yang disebut balkon. Dari balkon ini, Anda tidak mungkin melewatkan pemandangan yang dilintasi kereta. Pasalnya terdapat kaca berukuran cukup besar, untuk melihat dunia luar.

Menurut sejarah, gerbong Djoko Kendil 1 merupakan gerbong pengangkut pejabat kereta api saat melakuan inspeksi jalur kereta. Sedangkan gerbong Djoko Kendil 2 adalah pengangkut regu penolong dan alat kerja. Pekerja dalam gerbong ini bertugas memberi bantuan pada kereta yang mengalami gangguan perjalanan.

Menurut Sugeng Priyono, nantinya kereta api Djoko Kendil akan melayani perjalanan wisata.”Tidak ada rute khusus utnuk wisata ini. Semua disesuaikan kehendak dan kocek penyewa.” kata Sugeng dengan antusias.

Ibadat tiada gading yang tak retak, lokomotif buatan Amerika tahun 1953 yang semula akan ikut diuji coba, belum bisa digunakan karena masih perlu perbaikan pada sistem pengereman.

Pihak PT KAI Daop 8 Surabaya, agaknya juga harus mengevaluasi suspensi gerbong Djoko Kendil. Kereta api wisata yang seharusnya nyaman dan terbebas dari guncangan, justru terasa bergetar. Tapi kita tunggu saja saat peluncuran nanti. Semoga segala kekurangan bisa tertutup.

Tidak ada komentar:


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com