Senin, 07 Juli 2008

SENDAL IDAMAN si BONO



Surabaya, 5 April 1997


Siang itu sepulang dari kerja, Bono mendapati sang sendal jepitnya telah prak poranda babak belur tercabik anjing herder tetangganya.

Iapun menangis karena kenangan indah bersama sendal jepitnya takkan dapat ia hapus dari ingatannya.
Terngiang waktu masa perjuangan repolusi pisik dulu.
Terngiang kala menyaksikan pembacaan proklamasi.
Terngiang saat tercebur di kali dan bertemu dengan .....

"Sendal jepit, oh sendal jepitku." Bono mendesah dengan air mata bercucuran
Dipecahnya celengan yang sudah terisi penuh dengna uang receh yang telah dua tahun empat bulan tujuh minggu lima hari belum pernah dipecahnya itu.
Pyar! Cring cring cring! Suara pecahnya celengan dan berhamburnya uang receh ke lantai tak terelakkan lagi memekakkan telinga bagai letusan Krakatau.

Seratus, dua ratus lima puluh, tuju ratus, seribu lima puluh. Total jendral dua puluh ribu dua puluh lima rupiah terkumpul. Bonopun senang.

Segeralah ia pancal sepedanya ke toko sendal di perempatan jalan sebelah penjual sumbu.
Iapun masuk toko dan mulai melihat-lihat ke kanan dan ke kiri, namun tiada kunjung nampak ujud sendal yang diinginkannya.
Pikirnya, "Ah, di toko lain pasti ada."

Bono segera memacu kendaraannya menuju toko sendal di alun-alun yang kurang lebih tiga kilo tujuh jengkal jaraknya dari toko pertama.
Berdesak-desak keadannya hingga ia kesulitan untuk melihat apalagi memilih.
Jengkel, lalu ia tinggalkan toko itu dengan segala bau keringat orang yang ada di situ.

Dengan kecepatan tinggi tapi hati-hati, ia tunggangi si sepeda kebo yang sudah kusam lagi butut itu.
Sampai di toko sendal terakhir yang dimiliki kota itu yang diapit oleh kios las karbit milik pak Koliq dan toko emas milik seorang kaya di kota itu.
Bono nampak sedikit senang sebab toko itu nampak sepi kekurangan pengunjung di malam minggu awal bulan itu.
Mata Bono terlihat jelalatan memandangi pasang demi pasang sendal di toko itu.

"Lha!!" pekik Bono sambil memegang sepasang sendal yang nampaknya ia senangi.
"Lho!!" ucap Bono penuh sesal sebab harga yang terpampang dianggapnya kurang sopan terhadap koceknya.

Bono keluar dari toko itu dan menuntun sepedanya degan penuh rasa kecewa.
Langkahnya berat dan makin menyedihkan lagi karena tanpa alas kaki rupanya ia dari tadi.
Air matanya kembali berlinang menjatuhi bumi mengalir di tanah bak sungai di kota-kota besar yang bening seperti kopi susu yang selalu ditenggaknya setiap pagi.

Ke sana ke mari Bono mencari. Tapi yang didapatinya dari tadi hanya
sendal kulit
sendal ban
terompah
klompen, dan
selop

Bono tak senang dengan semua itu. Bono tak senang denga sendal-sendal itu. Jadi apakah BOno tetap harus memilih satu di antara yang tidak disenanginya itu?
Dosakah bila ia tak beralas kaki?

Kata Bono, "Aku akan nyeker."

Tidak ada komentar:


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com