Selasa, 08 Juli 2008

REGRET


Surabaya, 28 July 2000 (SLTP Untag)

im blind though i eyes have
im mute though i have mouth
im deaf though ears i have
im limp though i legs have
im fool though i have brain
im fierce though heart i have

forgive me Father
for i have sinned

Senin, 07 Juli 2008

SENDAL IDAMAN si BONO



Surabaya, 5 April 1997


Siang itu sepulang dari kerja, Bono mendapati sang sendal jepitnya telah prak poranda babak belur tercabik anjing herder tetangganya.

Iapun menangis karena kenangan indah bersama sendal jepitnya takkan dapat ia hapus dari ingatannya.
Terngiang waktu masa perjuangan repolusi pisik dulu.
Terngiang kala menyaksikan pembacaan proklamasi.
Terngiang saat tercebur di kali dan bertemu dengan .....

"Sendal jepit, oh sendal jepitku." Bono mendesah dengan air mata bercucuran
Dipecahnya celengan yang sudah terisi penuh dengna uang receh yang telah dua tahun empat bulan tujuh minggu lima hari belum pernah dipecahnya itu.
Pyar! Cring cring cring! Suara pecahnya celengan dan berhamburnya uang receh ke lantai tak terelakkan lagi memekakkan telinga bagai letusan Krakatau.

Seratus, dua ratus lima puluh, tuju ratus, seribu lima puluh. Total jendral dua puluh ribu dua puluh lima rupiah terkumpul. Bonopun senang.

Segeralah ia pancal sepedanya ke toko sendal di perempatan jalan sebelah penjual sumbu.
Iapun masuk toko dan mulai melihat-lihat ke kanan dan ke kiri, namun tiada kunjung nampak ujud sendal yang diinginkannya.
Pikirnya, "Ah, di toko lain pasti ada."

Bono segera memacu kendaraannya menuju toko sendal di alun-alun yang kurang lebih tiga kilo tujuh jengkal jaraknya dari toko pertama.
Berdesak-desak keadannya hingga ia kesulitan untuk melihat apalagi memilih.
Jengkel, lalu ia tinggalkan toko itu dengan segala bau keringat orang yang ada di situ.

Dengan kecepatan tinggi tapi hati-hati, ia tunggangi si sepeda kebo yang sudah kusam lagi butut itu.
Sampai di toko sendal terakhir yang dimiliki kota itu yang diapit oleh kios las karbit milik pak Koliq dan toko emas milik seorang kaya di kota itu.
Bono nampak sedikit senang sebab toko itu nampak sepi kekurangan pengunjung di malam minggu awal bulan itu.
Mata Bono terlihat jelalatan memandangi pasang demi pasang sendal di toko itu.

"Lha!!" pekik Bono sambil memegang sepasang sendal yang nampaknya ia senangi.
"Lho!!" ucap Bono penuh sesal sebab harga yang terpampang dianggapnya kurang sopan terhadap koceknya.

Bono keluar dari toko itu dan menuntun sepedanya degan penuh rasa kecewa.
Langkahnya berat dan makin menyedihkan lagi karena tanpa alas kaki rupanya ia dari tadi.
Air matanya kembali berlinang menjatuhi bumi mengalir di tanah bak sungai di kota-kota besar yang bening seperti kopi susu yang selalu ditenggaknya setiap pagi.

Ke sana ke mari Bono mencari. Tapi yang didapatinya dari tadi hanya
sendal kulit
sendal ban
terompah
klompen, dan
selop

Bono tak senang dengan semua itu. Bono tak senang denga sendal-sendal itu. Jadi apakah BOno tetap harus memilih satu di antara yang tidak disenanginya itu?
Dosakah bila ia tak beralas kaki?

Kata Bono, "Aku akan nyeker."

Senin, 09 Juni 2008

Ting! Ting! Ting! Purna!

Surabaya, 7 Juni 2008

bergelut kelu temaram
menabuh mangkuk kusam, ting! ting! ting!
itu sendok bebek mengirama bertempo ting! ting! ting!
tak jua laku bersurut kurang 7 mangkuk ini

aku letih ngilu
pundakku lekang dikalungi buluh ini
kerikil menggigiti tumitku tak bisa dihalangi sendal jepit tipis lagi
rumahku masih jauh dari ini

kacang ijo bubur diterangi oblik jelaga
pinggangku peyok lantaran runtuh

tempo terus ting! ting ! ting!
masih kusimpan 7 mangkuk ini

semua gang tak lagi congkak
semua debu jeda bergolak

ting!

itu kulihat aku teronggok
pikul memburai, para mangkuk para sirna
oblik lunglai terbaliknya
aku bisa nampak aku

tak perlu lagi nyanyi ting! ting! ting!
itu, Sobatku memeluk bangga jiwa
sejuk, hangat, intim

Selasa, 03 Juni 2008

Netra Mangkara

Surabaya, 2 Juni 2008

Tak lekang meregang suram hitam
Legam sekar wangi berserak warni
Gelap runtuh tersirat warna semerbak

Aku buta!
Aku netra!
Netra jiwa melantak adab!
Tuna pantang aku berserah!

Mereka kata,
Bagai bodoh si netra membingkai para berbuta

Aku jiwa!
Aku buta tak lihat apa
Aku buta tak kecap gemerlap
Aku buta tak sua kerling bianglala

Mereka kata,
Nan tolol pengarah jua kaum nista mata

Aku buta menuntun para buta
Aku buta melihat lesat jangkau para netra

Aku, si buta, lantang menantang,
Kau netra, tak malu berbalut agama?
Kau mata, hina nian mengecap harta lain?
Kau punya lihat, biadab berjuluk manusia!



saya terang-terangan mengecam ungkapan “seperti orang buta menuntun orang buta”. ungkapan ini sungguh menghina para tuna netra. mereka yang bisa melihat, toh tidak berbuat banyak buat para tuna netra.
Biadab!

Lalu Tak Mati

Surabaya, 19 Februari 2008

sepoi menurunkan angin
angin bertiup jadi badai

bunga mekar pasal buah
buah masak jadi ranum

moyang berpinak ayah-bunda
ayah bunda mesra jadi awak

lampau lahirkan kini
tonggak sejarah esok
pantanglah hirau lalu
enggan lupa kemarin
hari ini berada sebab dulu
sekarang untuk merenda masa di depan

Rabu, 21 Mei 2008

Bergelut Dengan Cemooh



Diremehkan tetangga sekitar tidak menjadikan Pur patah arang dengan kondisi fisiknya yang bagi sebagian orang, kurang menguntungkan. Berangkat dari ketertarikannya pada dunia otomotif, kini Pur mampu membuka bengkelnya bersama adiknya. ia bahkan mampu mempekerjakan seorang karyawan.

Slamet Purnomo mengalami polio sejak lahir. namun Pur, demikian ia akrab disapa, pantang menyerah. Bapak satu anak ini tekun menggeluti ketertarikannya pada roda gigi sepeda motor dan bau bensin yang menyengat. Meski hanya mempelajari mesin secara otodidak tidak mengurangi keakuratan analisa Pur dalam mengobati sakit pada sepeda motor kliennya.

Dasar sudah hobi, dengan mudah Pur menyerap berbagai ilmu mekanika yang diajarkan adiknya, Samsul. Dan dari hobi dan ketekunannya itulah, kedua orang tua Pur membangunkan sebuah bengkel di kawasan Keputih Tegal, Surabaya.

“Kowe nek tak gawekno bengkel yok opo, Le?” kata Pur menirukan tawaran orang tuanya.

Pur menuturkan saat awal merintis usahanya 2000 silam, banyak orang yang mencemooh dan meremehkan keterbatasan fisiknya. Tapi tidak seorangpun mampu menyurutkan pria ramah ini. Cibiran itu justru menjadi cambuk bagi bapak 1 anak ini untuk bertahan dan terus berjuang. “Wah sudah nggak terhitung lagi yang menghina saya.” kata Pur sambil tersenyum cuek.

Dua kruk dari bilah pipa air yang terbilang cukup berat itu menjadi teman setia Pur kemanapun ia pergi. Kruk bukanlah penghambat baginya untuk maju. Baginya dua kruk itu adalah alat bantu kerja, layaknya obeng untuk membantu membuka sekrup.

Kegigihannya selama 8 tahun berbuah limpah. Kini pelanggan Pur mengalir seperti arus sungai. Tenang tapi berlanjut. Lumintu. Banyaknya pelanggan ternyata tidak mengurangi mutu garapan Pur. Daryanto salah seorang pelangannya mengakui ini, “Kerjanya bagus dan rapi.”

Pur mengaku tidak ragu menjalani hidupnya meski menyandang cacat. Apalagi ditemani Muji Minarti, istri tercintanya dan Axal Gimnastiar, anaknya yang masih 5 tahun.

Pur bersama teman-temannya di Ikatan Alumni Yayasan Yenyandang Cacat, IKA YPAC Surabaya, selalu berkoordinasi untuk memberdayakan para penyandang cacat. Pur selalu mendorong para penyandang cacat untuk mau membuka lapangan kerja sendiri, dengan memanfaatkan ketrampilan masing-masing. “Untuk teman-teman saya para penyang cacat, jangan hanya menunggu bantuan orang. Kita sendiri yang harus membantu diri kita sendiri. Gunakan ketrampilan yang kita miliki. Pasti banyak manfaatnya.”

Sebagai seorang mekanik tekad Pur hanya memberikan pelayanan yang prima agar para pelanggannya puas. Terutama agar dunia tahu, penyandang cacat tidak bisa dipandang sebelah mata.

(22/02/08)


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com