Jumat, 04 Maret 2011

TERSENGAL-SENGAL



Surabaya, 4 Maret 2011

sempit ini belum juga lapang
sejak purnama lalu menyerang
belum juga lengang
masih berhinggap, belum hilang

aku benar tercabik
penuh murka tapi api tak bisa dipantik
tiada bagus pun adanya tanpa apik
hilang sudah semua yang cantik

tiap malam datang
dada kian sempit
batuk berderap
nafas tersengal

betapa jiwa tak ronta
buah hati juga sama lagi nestapa
aku sekarang tiada harta
besok juga masih pastinya tiada

sepertinya semangat habis
tak tega lihat tulang rusukku mengempis
lubang-lubang ini belum sanggup kulapis
makin lama kian tipis

tiap malam datang
dada kian sempit
batuk berderap
nafas tersengal

Rabu, 23 Februari 2011

PENTOL LEMES



Surabaya, 22 januari 2011

pentol-pentol sudah siap dari subuh
sausnya bisa cepat buatnya
yang paling penting memang pentol sama tahu

Sujono sudah seharian keliling Surabaya
Sujono selalu ngontel muteri Bulak, Genteng, Petemon
Sujono berhasil menjual
sedikit
di sekolahan
di kampung
di samping TP

Sujono bekalnya cuma mandi sama sikat gigi
topi kalep selalu mancep di kepala sedikit nutupi mata

Hari ini pentolnya banyak belum habis
masih numpuk dalam dandang dan
dalam kresek di laci

Sujono sudah capek
mukanya sudah kumal seperti baju celana panjangnya
2 hari belum ganti
Kakinya punggungnya lehernya juga lemas dihantam Surabaya

Sepeda rombongnya dijagrang samping dekat buk
di Petemon Kuburan

Sujono duduk di buk
topinya masih nangkring di kepala

tertunduk
Sujono terlelap sejenak
letihnya menang atas tuntutan marketing pentol

pentolnya masih banyak
belum habis

Rabu, 24 November 2010

ALERT! MENULIS, 2 JURNALIS SURABAYA POST DIPOLISIKAN



Hari Istiawan dan Budi Prasetyo, jurnalis Surabaya Post, dipanggil penyidik Satreskrim Polres atas laporan pencemaran nama baik. Kedua dilaporkan atas berita yang mereka tulis dan dimuat Surabaya Post edisi 2 September 2010. Pada keduanya, Satreskrim Polres Sidoarjo mengenakan pasal 310 dan 311 KUH Pidana tentang pencemaran nama baik.

Hari dan Budi menulis tentang demo buruh PT Surya Alam Tunggal di Dinsosnaker Sidoarjo. Para buruh menuntut pembayaran upah sesuai UMK, Tunjangan Hari Raya, dan penghapusan PHK sepihak. Selain melakukan wawancara dengan koordinator aksi, mereka juga mewawancarai Kepala Dinsosnaker Sumarbowo, Didik Bagyo Utomo dari SPSI, dan Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Mahmud. Selain itu, mereka berdua juga mengontak manajemen PT Surya Alam Tunggal, tapi tidak diangkat.

Merekapun menulis berita itu karena merasa sudah punya cukup data dan yakin telah melakukan proses jurnalistik dengan benar.

Keduanya tidak tahu kalau ada laporan ke polisi terkait berita demo itu. Baru pada Kamis (18/11/2010), ketika Budi usai meliput di Polres Sidoarjo dan sedang berada di warnet. Budi dikontak polisi dan didatangi untuk dititipi surat panggilan ke dua.

Surat itu ditujukan ke Pimpinan Redaksi Surabaya Post. Mendapat surat panggilan ke dua, Budi merasa kaget lalu memberitahukannya ke redaktur. Dari redaktur kemudian disambungkan ke sekretaris redaksi. Kepada AJI Surabaya dan LBH Pers Surabaya, mereka berdua diminta Sekretaris Redaksi agar tidak menghadiri surat panggilan itu dan tidak usah ditanggapi. Hal itu sesuai dengan rapat yang digelar di kantor.

Hari Istiawan adalah Sekretaris Jenderal AJI Malang yang bekerja di Sidoarjo. Kota ini masuk dalam wilayah kerja AJI Surabaya. AJI Surabaya dna LBH Pers Surabaya bermaksud mengadakan audiensi dengan Kapolres Sidoarjo. Rencananya kami akan meminta polisi untuk mengarahakan kasus ini ke Dewan Pers. Karena yang diperkarakan adalah masuk dalam ranah jurnalistik.

AJI Surabaya menyerukan pada seluruh lapisan masyarakat agar secara arif memilah perkara. Jika berurusan dengan berita dan memiliki fakta berbeda dengan yang ditulis di media, bisa meminta hak jawab. Nara sumber juga bisa mengajukan keberatan ke Dewan Pers.

Kami juga mendukung para jurnalis agar melakukan liputan sesuai dengan proses jurnalistik dengan benar. Ini dapat membuat posisi kita kuat bila kelak diperkarakan.


Andreas Wicaksono
Sekretaris AJI Surabaya

Minggu, 24 Oktober 2010

TAPE PAK SENO



Surabaya, 22 Oktober 2010

Sore itu Pak Seno makan sego sadukan di emper Sogo.
Pikulannya diletak begitu saja di bawah.
Dia kelihatannya menikmati nasi-nasi terakhir.
Monggo, Mas.” sapanya ke aku
Kubalas dengan senyum, ”Monggo

Sambil sesekali melihat lalu lalang mobil menurunkan naik majikannya ke dari Sogo
Suapan teerakhir disodok ke dalam mulutnya.
Lalu dia melongok ke logo Sogo menjulang di atasnya
Dia menoleh ke belakang
Beberapa orang duduk berhadapan minum kopi dan rokokan di Starbucks

Aku jelas tidak tahu apa yang melintas di benaknya
Tapi keliahatannya, dia sangat menikmati sesapan suap terakhir itu.

Dalam pikulannya
Mungkin jualan tape dibungkus daun pisang
Dari bungkusnya, sudah menguning.
Ujung-ujung daun mengering pula.
Beberapa hari kelihatannya belum laku.

Aku pastikan dia jualan apa itu.
Pak Seno bilang tape ketan.
Bikin sendiri di rumahnya di Benowo.
Dijaja sendiri keliling Surabaya.
Kalau habis pasti pulang.

Aku beli dua bungkus saja.
Empat ribu.
Karena aku penasaran.
Karena juga aku kasihan.

Sudah dikurangi dua.
Di pikulannya masih menimbun.
Aku tak tertarik beli semua.

Sekarang aku sudah di teras.
Sudah mandi dan selesai makan.
Hirau semua sekarang aku mau tape Pak Seno

Bungkus terbuka suaranya berderak
Ujung kering patahan berjatuh
Aromanya mengepul menusuk hidung
Liur ini tak berhenti mendesak meluap
Aku yakinkan sesuap masuk dalam mulut

BAH!
Rasanya asem!
Bukan busuk, tapi
Rasanya asem!

Ini tape pikulan Pak Seno
Orangnya kecil tidak sebesar Seno seharusnya
Tidak ada kumis senangkring Seno selayaknya
Bukan kekar seperti Seno adanya

Tapi
Seno yang asli kalah garang
Seno yang punya kuku pancanaka tidak nyata
Seno yang Bima pernah mencibir Samiaji

Seno yang ini lebih ganas menaklukkan hidup
Seno yang jualan tape, tidak angkuh
Seno yang ini benar-benar ada

Jumat, 22 Oktober 2010

LEMBAR TERAKHIR



Surabaya, 22 Oktober 2010

Lembar-lembaran ini tinggal yang terakhir di kantongku
Tinggal lima ribu

Aku tidak mau peduli besok.
Aku cuma perlu sabun mandi.
Selebihnya kubelikan snack untuk anakku
Biar dia sedikit gembira

Sesaat aku bisa melupakan bebanku
Pinsan dari sadar kalau besok matahari masih akan terbit

Baru kali ini aku bisa tertawa meskipun akan tidak punya uang
Ini ingin sekali kupunya terus-terusan

Pergi ke toko dia minta gendong
Sendepel di pundak kiri
Aroma rambutnya melecut hidung
Kibasan helainya membuat tenang hidungku

Dia minta biskuit coklat satu bungkus kecil
Tidak mau dua
Tidak mau yang lain
Satu saja

Pulangnya tetap saja minta digendong
Sambil menyanyi lagu yang dia karang sendiri
Nada sesukanya
Bahasanya tidak jelas
Cenderung mirip bahasa planet lain
Terus sendepel di pundak kiri

Tapi maknanya dalam menusuk paru-paru
Masuk dari telinga mengalir dalam darah
Pesan lagunya menggugah hati yang hancur
Coba dengar kalau tidak percaya ...

Ini memang tidak membuat lembaran uangku yang sudah punah, jadi lestari
Tapi aku tetap tidak peduli
Kenapa bisa?
Aku tidak mau tahu!

Minggu, 17 Oktober 2010

SUAP


Surabaya, 19 Mei 2010

Suap bukan keratabasa, ndelok susu cangkeme megap-megap,
tapi ndelok duwik lambene mangap
tapi kesusu mangap yang membuat idealisme menguap

Suap dalam amplop
untuk kamu.
Supaya kesepakatan tak terucap ini, klop!

Suap kumasukkan kantongmu biar kamu bicara bohong!
Biar faktanya bolong-bolong!
Lantas beritamu kosong!
Supaya hidupmu ompong!

Tapi jangan lupa, uang ini bakal bikin dompetmu tenang!
Duit ini memang sengaja bungkam kamu supaya tidak lantang!

Awas ya!
Kalau tidak diterima,
nyawamu MELAYANG!


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com