Jumat, 22 Oktober 2010

LEMBAR TERAKHIR



Surabaya, 22 Oktober 2010

Lembar-lembaran ini tinggal yang terakhir di kantongku
Tinggal lima ribu

Aku tidak mau peduli besok.
Aku cuma perlu sabun mandi.
Selebihnya kubelikan snack untuk anakku
Biar dia sedikit gembira

Sesaat aku bisa melupakan bebanku
Pinsan dari sadar kalau besok matahari masih akan terbit

Baru kali ini aku bisa tertawa meskipun akan tidak punya uang
Ini ingin sekali kupunya terus-terusan

Pergi ke toko dia minta gendong
Sendepel di pundak kiri
Aroma rambutnya melecut hidung
Kibasan helainya membuat tenang hidungku

Dia minta biskuit coklat satu bungkus kecil
Tidak mau dua
Tidak mau yang lain
Satu saja

Pulangnya tetap saja minta digendong
Sambil menyanyi lagu yang dia karang sendiri
Nada sesukanya
Bahasanya tidak jelas
Cenderung mirip bahasa planet lain
Terus sendepel di pundak kiri

Tapi maknanya dalam menusuk paru-paru
Masuk dari telinga mengalir dalam darah
Pesan lagunya menggugah hati yang hancur
Coba dengar kalau tidak percaya ...

Ini memang tidak membuat lembaran uangku yang sudah punah, jadi lestari
Tapi aku tetap tidak peduli
Kenapa bisa?
Aku tidak mau tahu!

Minggu, 17 Oktober 2010

SUAP


Surabaya, 19 Mei 2010

Suap bukan keratabasa, ndelok susu cangkeme megap-megap,
tapi ndelok duwik lambene mangap
tapi kesusu mangap yang membuat idealisme menguap

Suap dalam amplop
untuk kamu.
Supaya kesepakatan tak terucap ini, klop!

Suap kumasukkan kantongmu biar kamu bicara bohong!
Biar faktanya bolong-bolong!
Lantas beritamu kosong!
Supaya hidupmu ompong!

Tapi jangan lupa, uang ini bakal bikin dompetmu tenang!
Duit ini memang sengaja bungkam kamu supaya tidak lantang!

Awas ya!
Kalau tidak diterima,
nyawamu MELAYANG!

Kamis, 05 Agustus 2010

ADVOKAT HUTAN



Surabaya, 2 Agustus 2010

”Ini hutanku! Angkat kakimu dari sini! Tidak usah lewat! Cari jalan lain! BANGSAT!” dia marah-marah pada satu pahlawan yang lewat cari jalan pintas.

matanya melotot murkanya merah terbakar amuk
taringnya menyeringai memanjang dengan liurnya yang semakin menetes
lantang menggeram melolong kencang bikin nyali jadi ciut
serta menyerta kuku tangannya semakin panjang siap menerkam

tak kenal iba
tanpa ampun
tidak pakai kasihan

”Kamu yang menyingkir, Binatang! Belum pernah rupanaya kamu menyicipi hantaman saktiku. Sekali kamu coba, amblas nyawamu. Tugasku lebih jauh penting daripada hidupmu. Minggir, Keparat busuk!” begitu pisuhan si pembela kebenaran.

LHAP DAR! LHAP DAR! LHAP DAR!

pertarungan sengit tak imbang terlanjur
sang ksatria main curang. memakai semua jimat dan ilmu
si pahlawan tak sempat mengenal seluk si liar

si liar tak peduli siapa lawannya
tak berpaling biar tanpa sakti
modalnya berani

langsung hajar – terkam – bacok – bantai
senjatanya sebilah belati saja
memang sudah karatan tapi justru menakutkan

belati disabet, ditendang ksatria
belati mental, ditangkap ksatria
belati di ksatria
dihujam masuk ke perut si liar
dikoyak-koyak, ditancap lagi ke dada, diporak-poranda
Hancur!

sambil bersanding ajal, si liar bercerita

dia cuma dikenal sangat seram yang sangar
begal kelas teri tapi tanpa aji-aji
semua yang melintas pasti dirampok tanpa ampun
tak peduli petani sampai pendekar ksatria, dijarah habis-habisan

dia diwujud seekor manusia buruk rupa
bertaring-taring tajam nyathis
mukanya merah padam menyala
sang preman hidup di belantara
pintar sekali berkelahinya
garong yang lincah di darat juga waktu sambil manjat pohon

profilnya begitu,
toh tidak pernah menjarah
sosoknya memang diseramkan,
toh tidak pernah membunuh

dia cuma dipasrahi menjaga ibu bumi
tanggung jawabnya memelihara pepohon biar langgeng lestari
di pundaknya supaya hutan tidak alih fungsi

dia mencoba mengumpulkan sisa tenaga
sambil sekarat yang nafasnya tersengal
Cakil bicara
”kenapa kok kamu tidak mau pergi dari hutanku?”

bicaranya habis
nyawanya putus
gara-gara mukanya jelek
mampus sang advokat hutan

Jumat, 23 April 2010

NASI GORENG SAJALAH


Surabaya, 20 April 2010

Ini yang kami lupa.
Yah... mau gimana lagi
pokoknya maaf sudah terucap, rela sudah di hati
tak apalah yang penting kita masih cinta-cinta

Hari ini sudah 13 tahun lalu
saling kami ucap teguh janji tak bakal sesal
Tak mungkin belah! Tak bisa pisah!

Sesuap nasi goreng dulu
Porsinya kebanyakan
Satu piring saja sangat cukup berdua

Sepiring ini hapuskan duka-duka seabad
Saling hujat, makian
Baku hina, ludahan
Lempar serapah, sumpahan

Rahimnya tak juga berbuah
Maniku tak kunjung melaju

Tidak pernahlah menimang jabang
Kosong hati tak ada bayi

Sesuap-suap nasi goreng lagi ...
Suap lagi
Sini kusuapi
Sini kuusapi peluhmu
Hapus juga peluhku
Biar kukecup cintamu
Tak boleh belah! Tak boleh pisah!

Kami cinta
meski adanya
tidak ada

JADI GURU?


Surabaya, 12 April 2000

Tersebut mahasiswa—semata wayang sesuami istripejabat eselon IIA kaya hidup di metropolis berlimpahan dunia bermandi rupiah berjuta dusta—bergelut teori beribu perpustakaan beratus miliar halaman buku filosofi ditelan, berpuluh-puluhjuta praktek dilakoni demi IP 3 koma. Tak nista bila kini sang bocah dewasa telah dan berlengkap dengan sepasang kacamata nangkring tepat di depan bola dua matanya.

Telah dari tahun awal SMA bertekat bulat berguru hendak jadi guru.
Masuklah ia di Keguruan dan Ilmu Pendidikan jauh dari orang tuanya.
Menyewa tempat tinggal sekamar dengan lembab pengap bau khas dikta-diktat tua, kamus tebal bilingual, ensiklopedia 7 volume, dan 4 thesaurus 5 senti.

Tak dilupa berturut jadi peserta seminar, dialog interaktif, debat terbuka, dan beraktif di simposium-simposium berbau pendidikna di nusantara.

Lima tahun akhirnya komplit studinya. Lulus jenjang Stratum 1 kini resmi siap jadi guru dan diakui negara boleh mengajar SMA ke bawah.
Tujuan pertama adalah rumah kedua orang tua tercinta di kota metropolisnya yang biar meskipun terus dapat kalpataru tapi masih tetap jorok bau tak karuan.

Setiba di teras mengkilap sang ayah ibu erat memeluk sang anak semata wayang.

8 x 24 jam sudah telah sungguh-sungguh ia di rumah.
Lalu diutarakannyalah maksud yang dicita sejak SMA. Jadi guru.

Sang ayah kaget terperanjat. Berujar, “Lalu siapa hendak meneruskan kehartaan ayah ibumu, Nak, Ngger, Cah bagus?”
Sang anak bertutur, “Inilah jalanku. Inilah panggilan. Hati nurani.”
Ibunya mengucap, “Sudah telah mulus jalanmu langsung ke tingkat eselon III A. Telah berdua ayah ibu siapkan hanya untukmu, jodohpun telah menunggu kau sunting. Jangan patahkan hati ayah ibumu, Nak.”
Sang anak bertutur lagi, “Inilah jalanku. Inilah panggilan. Hati nurani.”

Sang ayah geram menghardik menggebrak meja menampar jatuh terperosok sang anak yang dianggapnya durhaka seraya membentak, “Hendak aku taruh apa dalam sendok suapan anakmu, Bangsat keparat?”

SAHABATKU DIHUKUM MATI


Surabaya, 21 April 2000

Sahabatku dicari petugas keamanan gara-gara menolong membalut luka seutas bromocorah dan segelas air diteguk sejuk.
Sahabatku dikejar petugas keamanan dengan bertuduh menggoyah stabilitas sosial membahaya keamanan. melindungi buron membantu pelarian.
Sahabatku diburon petugas keamanan hanya karena mengamal sila 2 butir 2.

Lantas muncul di pengumuman media cetak pamflet baliho selebaran koran majalah tabloid pun serta elektronik tivi radio internet, berkata,
”BARANG SIAPA DAPAT MENANGKAP HIDUP AKAN MENDAPAT HADIAH DARI PEMERINTAH BERKUASA SEBESAR LIMA PULUH TUJUH RIBU RUPIAH. DAN BARANG SIAPA YANG JELAS-JELAS MELINDUNGI SEPAK TERJANGNYA AKAN DIHUKUM RAJAM.”

Hatiku hancur remuk berlumur lumpur berpeluh darah beranyir sengau aroma air mata perih di nurani serasa mati mendengar baca woro-woro di sana.

Aku melihat berkepala mata hatiku sendiri Sahabatku ditangkap di leher diikat rantai, di tangan diikat rami, di kaki diikat sling ditarik paksa petugas keamanan seraya dicaci cemooh dihujam hujatan ludah memandi di muka Sahabatku.
Dia tersenyum manis.

Popor senapan menyarang bertubi di muka Sahabatku darah segar bercamspur luruh keringat menyeka muka dari ujung kepala pelipis dan ekor mata.
Ketika terjatuh tangan jemari diinjak sepatu boot para petugas keamanan beserta umpatan tak ketinggalan teriak kutukan di persisi telinga Sahabatku.
Dia tersenyum manis.

Aku hanya terdiam dapat cuma terpekur hening bertetes air mata menyaksi Sahabatku didera. Tak berani ak umenolong dan berteriak, ”ini Sahabatku!” karena ancama hukuman rajam dari penguasa.
Aku hanya terdiam malu.
Aku hanya berhening di hati menjerit meronta.
Aku hanya tertunduk tak berani menatap wajahku sendiri.
Aku hanya bisa nista berhampa.
Sahabatku hanya diharga sepeser untuk dihukum mati hanya karena mengamal cinta.
Sahabatku tetap tersenyum pada para penyiksa

Saat nyawa lepas,
Sahabatku tetap tersenyum manis


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com