Surabaya, 21 November 1999
raya rungkut industri.
larut malam.
kantuk serang.
dingin menusuk.
nyetir sendiri.
jalanan sepi.
sisi bukan kanan.
emperan toko.
ada yang tidur.
penjual kêré.
sepeda dijagrang.
2 kêré ikat di sepeda.
dari desa?
dari dukuh?
laku banyak?
blas?
brapa di kantong?
beli nasi cukup?
nggak pulang?
aku pilu.
sedih.
harus apa?
uang?
beli kêré?
tumpangan?
aku pilu.
terpasung.
harus apa?
akhirnya ucap.
selamat malam.
Pak kêré.
selamat tidur.
pergi nyamuk!
selamat tidur, Pak.
Senin, 23 November 2009
SETIANG LAMPU LALU LINTAS

Surabaya, 23 November 1999
Merah.
Nyala, berhenti!
Kendaraan stop tiada lewat boleh.
Dari sono banyak lalu lalalng.
Depan menyeberang rame
jalan kaki
Kuning.
Keclip-keclip siap-saiap mau hijau
mungkin merah hendak
Hijau.
Melotot.
Ayo jalan!
Yang belakang klakson pekak telinga
bingar bising sulut pitam gerutu umpatan.
Yang nyebrang, setop!
Merah nyala!
Kuning keclip-keclip!
Hijau melotot!
Serempak.
Lalu lintas bingung.
klakson-klakson-klakson.
macet-macet-macet
umpat-umpat-umpat
teriak-teriak-teriak
panas-panas-panas
telat-telat-telat
marah-marah-marah
kacau-kacau-kacau
protes-protes-protes
hujat-hujat-hujat
ego-ego-ego
kamu salah-salah-salah
EGO-EGO-EGO
Senin, 09 November 2009
UNTUKMU SEMUA
Surabaya, 8 November 2009
ini lenganku,
ambil saja untukmu kau sedang butuh untuk mengambil air
silakan,
telingaku buatmu engkau pasti butuh untuk menyemat dengar
jangan ragu,
ini pankreasku untukmulah saja dirimu sedang perlu mencerna lemak
ambil dan pakai
tubuhku untuk kalian perlu hidup
yang kau ambil aku tak mungkin kehilangan pasti tak kekurangan
ini lenganku,
ambil saja untukmu kau sedang butuh untuk mengambil air
silakan,
telingaku buatmu engkau pasti butuh untuk menyemat dengar
jangan ragu,
ini pankreasku untukmulah saja dirimu sedang perlu mencerna lemak
ambil dan pakai
tubuhku untuk kalian perlu hidup
yang kau ambil aku tak mungkin kehilangan pasti tak kekurangan
PILIHLAH

Surabaya, 8 November 2009
aku punya jajan untukmu
pilih mana kuberikan?
tangan kiriku?
biasa untuk ceboki anus setelah berak
pastinya ada tai yang kena
tangan kanan?
pernah kupakai menghujam pedang ke dalam tenggorokan satu tetangga
buat menampar keponakan dia mukul anakku
untuk tanda tangan kesepakatan menggusur rumah janda tua
kiri – kanan?
Kamis, 05 November 2009
MENGECUP DUKA
Surabaya, 2 November 2009
Kian hatiku jadi serpihan
Melihat kekasihku tak berhias
Nestapa merayap selimuti kayuh
Seperti gelegar petir tiada bising
Senyap gulana
Aku hatiku hariku nyeri
Linu di ulu mata leleh
Tapi kasihku membelai cinta
Mesra hapus air dari mata
Kami berjalan masih ada esok
Kami labuh di terang rembulan mentari
Kian hatiku jadi serpihan
Melihat kekasihku tak berhias
Nestapa merayap selimuti kayuh
Seperti gelegar petir tiada bising
Senyap gulana
Aku hatiku hariku nyeri
Linu di ulu mata leleh
Tapi kasihku membelai cinta
Mesra hapus air dari mata
Kami berjalan masih ada esok
Kami labuh di terang rembulan mentari
Senin, 05 Oktober 2009
KAKU

Surabaya 1999
Setapak jejak tak beragam sunyi hening
langkah
langkah
langkah
Hampir tak bernada, hampir tak seriuh langkah mereka,
pun gejolak ombak tak hantam.
Kemarin tampak coklat tua.
Kini terlihat coklat tua.
Esok coklat tua.
Pandangan tetap lurus mata sayu
bibir terkatup hati bisu
Bisik angin di telinga sahabat seharian.
Nyanyian prenjak di dahan tak ubah irama.
Deru asap knalpot tak luapkan emosi tak ubah motto.
Hari-hari tak gelap tak pula terang
tak corak jua
Langganan:
Postingan (Atom)
Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com