Surabaya, 16 Oktober 1999
Aku adalah garam yang disarikan dari laut,
Yang dipakai hampir di seluruh kehidupan
mahluk yang menamakan dirinya, manusia.
Celakalah bila jangan kunci tak pakai aku.
Nista jika oralit tanpa aku.
Rusaklah krupuk upil alpakan aku.
Bahkan mungkin tak kunjung meledaklah
TNT minus aku.
Kala kurengungi
ipoleksosbudhankamrata akan sangat bodoh
semisal mengabaikan aku
Aku adalah garam yang disarikan dari laut,
tak terlalu sulit mendapatkan diri ini.
Mulai dari daratran timur hingga barat, utara dan selatan.
Mulai dari pasar tradisional hingga supermarket.
Mulai dari warung amigos sampai dapur Hilton.
Mulai dari rumah tangga keluarga sampai tangga negara
aku tak mustahil dijumpai.
Nun hingga kini,
di daratan gemah ripah loh jinawi ini
aku tidak tempat yang nikmat.
Aku mudah dipunya
pula mudah disirna.
Aku murah diharga
makin hampa harga diri
saat hanya ditukar beberapa
keping gemerincing
dibungkus kantong plastik tipis
dijinjing ditenteng.
Hanya di para ibu aku rasa diterima
Cuma di tangan ibu aku diharga.
Aku adalah garam yang disarikan dari laut,
Dengan ini menggugat,
Terkutuklah manusia mencampakkan aku,
akulah menyedapkan masakan mewah mereka.
Tertanda,
Aku
Garam yang disarikan dari laut
Minggu, 05 Oktober 2008
Rabu, 10 September 2008
Aku Bangga

Surabaya, 6 Januari 1999
Telah cukup muak kulihat tingkahnya
Telah cukup kupendam luka
Telah kurasa kecewa
Telah muak kudengar bingar
Perginya membuat rumah gusar
Mabuknya tak jua sadar
Tinjunya memarkan hati pedih
Pergaulannya kadikan mataku putih
Lantam teriakannya tak lagi cintaku masih
Habislah aku
Tersungkur dalam bunga tidurku
Kusayat urat nadi merintih aku pilu
Kuteteskan air mata darah
Bahkan mimpipun aku gundah
Tolonglah, Gusti, sudah!
Hari-haripun terasa panas
Darah mendidih kepalaku pecah hati terlibas
Badan rasanya sepuluh tigapuluh truk melindas
Tapi sang bocah keparat ini tampak tenang
Si durhaka bagaikan pesta tampaknya selalu girang
Tak peduli biar jungkir balik ayahnya mengerang
Akan kutungu dan kuhitung
Biarlah rasa manusiaku kulepas dulu kugantung
Putih dan hitamku bertarung
Satu, dua, tiga. Tak mungkin mengelak dapat
Sudah, sudah, sudah kubabat
Biarlah lehernya menganga terteas gobang keramat
Darah merah melumuri tubuh
Karam sudah kapal tak lagi labuh
Karena telah remuk tak utuh
BALADA KLEPON

Surabaya, 4 Juli 1998
Tiap kali ayah bawa klepon sepolang kerja,
selalu tiga bungkus kulalap habis.
Setiap kali ayah tanya oleh-oleh apa
kujawab satu kata, klepon
Ibu, buatkan dong anakmu klepon yang banyak
untuk nonton tivi nanti sore.
Anggukan mesra ibu tanda ya.
Senang aku ternyata ibu bisa buat klepon
Amat lekas sekali ibu memasaknya
bagaikan sekejap langsung klepon siap.
Air liurku banjiri mulut
harus kutahan hingga acara nanti sore.
Hampir tiap hari
aku minta dibuatkan.
Sepertinya aku kecanduan klepon.
Sepertinya klepon yang mengalir di darahku.
Lalu aku pikir, bila ibu tak ada di rumah
siapa yang buatkan klepon?
Mau beli kini yang jual jauh.
Mau beli kini kleponnya kecil-kecil, tak puas.
Kutanya ibu resep dan cara masaknya.
Mudah bahannya bisa didapat di pasar.
Aku belanja bahannya
dan sore in iaku belajar buat klepon bersama ibu.
Asyik, kini kunikmati klepon buatanku
rasanya tak kalah dengan buatan ibu.
Kunikmati sambil nonton kartun
sekali gigit rasanya seperti di surga.
Kini tiap hari kubuat klepon sendiri.
Kunikmati tak ada yang ganggu
tegal yang lain tak suka klepon
tegal yang lain suka klanting
Tapi kini aku agak risi
tegal kakak ikut nimbrung.
cawe-case ngudek adonan
cawe-cawe ngoplos bahan.
Tak cukup kakak yang ikut
Budhepun turut
Paklik juga serta
Mbahkung tertarik terus ngudek-ngudek
entah mengapa esoknya
Pak Koliq, tetanga belakang urun
istrinya melu
pembantunya apa lagi.
Budhe yang saring tepunnya
Paklik masak gula jawa
Mbahkung cari pandan
lal uberi warna ungu pada kleponnya.
Pak Koliq yang ngudek
istrinya yang nyicipi
pembantuny ayang masak air
lalu nggodog.
Kucicipi,
Bah! Rasanya bagai neraka.
Gula terlalu banyak.
Warnanya ungu pula.
Sebel aku akan klepon kini.
Tak ingin kusentuh klepon
walau ibu buat
walalu oleh-oleh ayah.
muak dengan kata klepon
melintas di telinga.
Pun mual perut ingin muntah
bila cium aroma klepon
Durjana!
Jumat, 22 Agustus 2008
SIMBIOSIS MUTUALISME
Surabaya, 4 Juni 2000
Sedari pulang sekolah menyusur sungai kecil mengalir membelah jalan ramai di seberang toserba sepi pengunjung di siang
terik, kuterpana memandang berumpun eceng gondok hijau merimbun kokoh di permukaan air sungai.
Aku yang masih digantungi tas kuliah di pundak kananku terhenti
tersita hasrat pulangku sejenak oleh rimbunan eceng gondok menutup atas air sungai.
Mungkin benarkah kata orang kampung berujar,
"Eceng gondok ini bertiada guna. Merusak sungai karena bertumpuk biaknya. Harus disingkir agar kali kita melancar setiap arusnya."
Atau harus kupercaya ucap seorang teman,
"Eceng gondok itu bagus lho, dikarena membersih air dari pencemar. Si airnya lalu jadi jernih dan dipasti lebih bersih."
Aku kembali lagi ke kampus esok hari.
Bertukar pengalaman dengan beberapa kolega, dengan beebrapa aktivis, dengna beberapa dosen. Ternyata terkata benarlah bahwa eceng gondok memang tidak ditakdir membawa petaka durjana.
Aku layangkan kaki ke pinggir jembatan sungaiku lagi.
Kurenungi dan kuyakin harus patut kuberpaham dengan segenap jiwa, logika, akal sehat, emosi, empati, intelegensi, nurani, dan hati.
Kuhayati bahwa harus disadari ternyata sang air memberi
hidup sang eceng gondok,
dan
sang eceng gondok membersih air dari racun.
Lalu aku terhentak, masih pingsan.
Cinta harus eceng gondok dan air!
ditoreh untuk kekasih
Selasa, 08 Juli 2008
REGRET
Senin, 07 Juli 2008
SENDAL IDAMAN si BONO

Surabaya, 5 April 1997
Siang itu sepulang dari kerja, Bono mendapati sang sendal jepitnya telah prak poranda babak belur tercabik anjing herder tetangganya.
Iapun menangis karena kenangan indah bersama sendal jepitnya takkan dapat ia hapus dari ingatannya.
Terngiang waktu masa perjuangan repolusi pisik dulu.
Terngiang kala menyaksikan pembacaan proklamasi.
Terngiang saat tercebur di kali dan bertemu dengan .....
"Sendal jepit, oh sendal jepitku." Bono mendesah dengan air mata bercucuran
Dipecahnya celengan yang sudah terisi penuh dengna uang receh yang telah dua tahun empat bulan tujuh minggu lima hari belum pernah dipecahnya itu.
Pyar! Cring cring cring! Suara pecahnya celengan dan berhamburnya uang receh ke lantai tak terelakkan lagi memekakkan telinga bagai letusan Krakatau.
Seratus, dua ratus lima puluh, tuju ratus, seribu lima puluh. Total jendral dua puluh ribu dua puluh lima rupiah terkumpul. Bonopun senang.
Segeralah ia pancal sepedanya ke toko sendal di perempatan jalan sebelah penjual sumbu.
Iapun masuk toko dan mulai melihat-lihat ke kanan dan ke kiri, namun tiada kunjung nampak ujud sendal yang diinginkannya.
Pikirnya, "Ah, di toko lain pasti ada."
Bono segera memacu kendaraannya menuju toko sendal di alun-alun yang kurang lebih tiga kilo tujuh jengkal jaraknya dari toko pertama.
Berdesak-desak keadannya hingga ia kesulitan untuk melihat apalagi memilih.
Jengkel, lalu ia tinggalkan toko itu dengan segala bau keringat orang yang ada di situ.
Dengan kecepatan tinggi tapi hati-hati, ia tunggangi si sepeda kebo yang sudah kusam lagi butut itu.
Sampai di toko sendal terakhir yang dimiliki kota itu yang diapit oleh kios las karbit milik pak Koliq dan toko emas milik seorang kaya di kota itu.
Bono nampak sedikit senang sebab toko itu nampak sepi kekurangan pengunjung di malam minggu awal bulan itu.
Mata Bono terlihat jelalatan memandangi pasang demi pasang sendal di toko itu.
"Lha!!" pekik Bono sambil memegang sepasang sendal yang nampaknya ia senangi.
"Lho!!" ucap Bono penuh sesal sebab harga yang terpampang dianggapnya kurang sopan terhadap koceknya.
Bono keluar dari toko itu dan menuntun sepedanya degan penuh rasa kecewa.
Langkahnya berat dan makin menyedihkan lagi karena tanpa alas kaki rupanya ia dari tadi.
Air matanya kembali berlinang menjatuhi bumi mengalir di tanah bak sungai di kota-kota besar yang bening seperti kopi susu yang selalu ditenggaknya setiap pagi.
Ke sana ke mari Bono mencari. Tapi yang didapatinya dari tadi hanya
sendal kulit
sendal ban
terompah
klompen, dan
selop
Bono tak senang dengan semua itu. Bono tak senang denga sendal-sendal itu. Jadi apakah BOno tetap harus memilih satu di antara yang tidak disenanginya itu?
Dosakah bila ia tak beralas kaki?
Kata Bono, "Aku akan nyeker."
Langganan:
Postingan (Atom)
Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com
