Jumat, 22 Agustus 2008

SIMBIOSIS MUTUALISME



Surabaya, 4 Juni 2000


Sedari pulang sekolah menyusur sungai kecil mengalir membelah jalan ramai di seberang toserba sepi pengunjung di siang
terik, kuterpana memandang berumpun eceng gondok hijau merimbun kokoh di permukaan air sungai.

Aku yang masih digantungi tas kuliah di pundak kananku terhenti
tersita hasrat pulangku sejenak oleh rimbunan eceng gondok menutup atas air sungai.
Mungkin benarkah kata orang kampung berujar,
"Eceng gondok ini bertiada guna. Merusak sungai karena bertumpuk biaknya. Harus disingkir agar kali kita melancar setiap arusnya."
Atau harus kupercaya ucap seorang teman,
"Eceng gondok itu bagus lho, dikarena membersih air dari pencemar. Si airnya lalu jadi jernih dan dipasti lebih bersih."

Aku kembali lagi ke kampus esok hari.
Bertukar pengalaman dengan beberapa kolega, dengan beebrapa aktivis, dengna beberapa dosen. Ternyata terkata benarlah bahwa eceng gondok memang tidak ditakdir membawa petaka durjana.

Aku layangkan kaki ke pinggir jembatan sungaiku lagi.

Kurenungi dan kuyakin harus patut kuberpaham dengan segenap jiwa, logika, akal sehat, emosi, empati, intelegensi, nurani, dan hati.

Kuhayati bahwa harus disadari ternyata sang air memberi
hidup sang eceng gondok,
dan
sang eceng gondok membersih air dari racun.

Lalu aku terhentak, masih pingsan.
Cinta harus eceng gondok dan air!



ditoreh untuk kekasih

Selasa, 08 Juli 2008

REGRET


Surabaya, 28 July 2000 (SLTP Untag)

im blind though i eyes have
im mute though i have mouth
im deaf though ears i have
im limp though i legs have
im fool though i have brain
im fierce though heart i have

forgive me Father
for i have sinned

Senin, 07 Juli 2008

SENDAL IDAMAN si BONO



Surabaya, 5 April 1997


Siang itu sepulang dari kerja, Bono mendapati sang sendal jepitnya telah prak poranda babak belur tercabik anjing herder tetangganya.

Iapun menangis karena kenangan indah bersama sendal jepitnya takkan dapat ia hapus dari ingatannya.
Terngiang waktu masa perjuangan repolusi pisik dulu.
Terngiang kala menyaksikan pembacaan proklamasi.
Terngiang saat tercebur di kali dan bertemu dengan .....

"Sendal jepit, oh sendal jepitku." Bono mendesah dengan air mata bercucuran
Dipecahnya celengan yang sudah terisi penuh dengna uang receh yang telah dua tahun empat bulan tujuh minggu lima hari belum pernah dipecahnya itu.
Pyar! Cring cring cring! Suara pecahnya celengan dan berhamburnya uang receh ke lantai tak terelakkan lagi memekakkan telinga bagai letusan Krakatau.

Seratus, dua ratus lima puluh, tuju ratus, seribu lima puluh. Total jendral dua puluh ribu dua puluh lima rupiah terkumpul. Bonopun senang.

Segeralah ia pancal sepedanya ke toko sendal di perempatan jalan sebelah penjual sumbu.
Iapun masuk toko dan mulai melihat-lihat ke kanan dan ke kiri, namun tiada kunjung nampak ujud sendal yang diinginkannya.
Pikirnya, "Ah, di toko lain pasti ada."

Bono segera memacu kendaraannya menuju toko sendal di alun-alun yang kurang lebih tiga kilo tujuh jengkal jaraknya dari toko pertama.
Berdesak-desak keadannya hingga ia kesulitan untuk melihat apalagi memilih.
Jengkel, lalu ia tinggalkan toko itu dengan segala bau keringat orang yang ada di situ.

Dengan kecepatan tinggi tapi hati-hati, ia tunggangi si sepeda kebo yang sudah kusam lagi butut itu.
Sampai di toko sendal terakhir yang dimiliki kota itu yang diapit oleh kios las karbit milik pak Koliq dan toko emas milik seorang kaya di kota itu.
Bono nampak sedikit senang sebab toko itu nampak sepi kekurangan pengunjung di malam minggu awal bulan itu.
Mata Bono terlihat jelalatan memandangi pasang demi pasang sendal di toko itu.

"Lha!!" pekik Bono sambil memegang sepasang sendal yang nampaknya ia senangi.
"Lho!!" ucap Bono penuh sesal sebab harga yang terpampang dianggapnya kurang sopan terhadap koceknya.

Bono keluar dari toko itu dan menuntun sepedanya degan penuh rasa kecewa.
Langkahnya berat dan makin menyedihkan lagi karena tanpa alas kaki rupanya ia dari tadi.
Air matanya kembali berlinang menjatuhi bumi mengalir di tanah bak sungai di kota-kota besar yang bening seperti kopi susu yang selalu ditenggaknya setiap pagi.

Ke sana ke mari Bono mencari. Tapi yang didapatinya dari tadi hanya
sendal kulit
sendal ban
terompah
klompen, dan
selop

Bono tak senang dengan semua itu. Bono tak senang denga sendal-sendal itu. Jadi apakah BOno tetap harus memilih satu di antara yang tidak disenanginya itu?
Dosakah bila ia tak beralas kaki?

Kata Bono, "Aku akan nyeker."

Senin, 09 Juni 2008

Ting! Ting! Ting! Purna!

Surabaya, 7 Juni 2008

bergelut kelu temaram
menabuh mangkuk kusam, ting! ting! ting!
itu sendok bebek mengirama bertempo ting! ting! ting!
tak jua laku bersurut kurang 7 mangkuk ini

aku letih ngilu
pundakku lekang dikalungi buluh ini
kerikil menggigiti tumitku tak bisa dihalangi sendal jepit tipis lagi
rumahku masih jauh dari ini

kacang ijo bubur diterangi oblik jelaga
pinggangku peyok lantaran runtuh

tempo terus ting! ting ! ting!
masih kusimpan 7 mangkuk ini

semua gang tak lagi congkak
semua debu jeda bergolak

ting!

itu kulihat aku teronggok
pikul memburai, para mangkuk para sirna
oblik lunglai terbaliknya
aku bisa nampak aku

tak perlu lagi nyanyi ting! ting! ting!
itu, Sobatku memeluk bangga jiwa
sejuk, hangat, intim

Selasa, 03 Juni 2008

Netra Mangkara

Surabaya, 2 Juni 2008

Tak lekang meregang suram hitam
Legam sekar wangi berserak warni
Gelap runtuh tersirat warna semerbak

Aku buta!
Aku netra!
Netra jiwa melantak adab!
Tuna pantang aku berserah!

Mereka kata,
Bagai bodoh si netra membingkai para berbuta

Aku jiwa!
Aku buta tak lihat apa
Aku buta tak kecap gemerlap
Aku buta tak sua kerling bianglala

Mereka kata,
Nan tolol pengarah jua kaum nista mata

Aku buta menuntun para buta
Aku buta melihat lesat jangkau para netra

Aku, si buta, lantang menantang,
Kau netra, tak malu berbalut agama?
Kau mata, hina nian mengecap harta lain?
Kau punya lihat, biadab berjuluk manusia!



saya terang-terangan mengecam ungkapan “seperti orang buta menuntun orang buta”. ungkapan ini sungguh menghina para tuna netra. mereka yang bisa melihat, toh tidak berbuat banyak buat para tuna netra.
Biadab!

Lalu Tak Mati

Surabaya, 19 Februari 2008

sepoi menurunkan angin
angin bertiup jadi badai

bunga mekar pasal buah
buah masak jadi ranum

moyang berpinak ayah-bunda
ayah bunda mesra jadi awak

lampau lahirkan kini
tonggak sejarah esok
pantanglah hirau lalu
enggan lupa kemarin
hari ini berada sebab dulu
sekarang untuk merenda masa di depan


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com