Jumat, 23 April 2010

NASI GORENG SAJALAH


Surabaya, 20 April 2010

Ini yang kami lupa.
Yah... mau gimana lagi
pokoknya maaf sudah terucap, rela sudah di hati
tak apalah yang penting kita masih cinta-cinta

Hari ini sudah 13 tahun lalu
saling kami ucap teguh janji tak bakal sesal
Tak mungkin belah! Tak bisa pisah!

Sesuap nasi goreng dulu
Porsinya kebanyakan
Satu piring saja sangat cukup berdua

Sepiring ini hapuskan duka-duka seabad
Saling hujat, makian
Baku hina, ludahan
Lempar serapah, sumpahan

Rahimnya tak juga berbuah
Maniku tak kunjung melaju

Tidak pernahlah menimang jabang
Kosong hati tak ada bayi

Sesuap-suap nasi goreng lagi ...
Suap lagi
Sini kusuapi
Sini kuusapi peluhmu
Hapus juga peluhku
Biar kukecup cintamu
Tak boleh belah! Tak boleh pisah!

Kami cinta
meski adanya
tidak ada

JADI GURU?


Surabaya, 12 April 2000

Tersebut mahasiswa—semata wayang sesuami istripejabat eselon IIA kaya hidup di metropolis berlimpahan dunia bermandi rupiah berjuta dusta—bergelut teori beribu perpustakaan beratus miliar halaman buku filosofi ditelan, berpuluh-puluhjuta praktek dilakoni demi IP 3 koma. Tak nista bila kini sang bocah dewasa telah dan berlengkap dengan sepasang kacamata nangkring tepat di depan bola dua matanya.

Telah dari tahun awal SMA bertekat bulat berguru hendak jadi guru.
Masuklah ia di Keguruan dan Ilmu Pendidikan jauh dari orang tuanya.
Menyewa tempat tinggal sekamar dengan lembab pengap bau khas dikta-diktat tua, kamus tebal bilingual, ensiklopedia 7 volume, dan 4 thesaurus 5 senti.

Tak dilupa berturut jadi peserta seminar, dialog interaktif, debat terbuka, dan beraktif di simposium-simposium berbau pendidikna di nusantara.

Lima tahun akhirnya komplit studinya. Lulus jenjang Stratum 1 kini resmi siap jadi guru dan diakui negara boleh mengajar SMA ke bawah.
Tujuan pertama adalah rumah kedua orang tua tercinta di kota metropolisnya yang biar meskipun terus dapat kalpataru tapi masih tetap jorok bau tak karuan.

Setiba di teras mengkilap sang ayah ibu erat memeluk sang anak semata wayang.

8 x 24 jam sudah telah sungguh-sungguh ia di rumah.
Lalu diutarakannyalah maksud yang dicita sejak SMA. Jadi guru.

Sang ayah kaget terperanjat. Berujar, “Lalu siapa hendak meneruskan kehartaan ayah ibumu, Nak, Ngger, Cah bagus?”
Sang anak bertutur, “Inilah jalanku. Inilah panggilan. Hati nurani.”
Ibunya mengucap, “Sudah telah mulus jalanmu langsung ke tingkat eselon III A. Telah berdua ayah ibu siapkan hanya untukmu, jodohpun telah menunggu kau sunting. Jangan patahkan hati ayah ibumu, Nak.”
Sang anak bertutur lagi, “Inilah jalanku. Inilah panggilan. Hati nurani.”

Sang ayah geram menghardik menggebrak meja menampar jatuh terperosok sang anak yang dianggapnya durhaka seraya membentak, “Hendak aku taruh apa dalam sendok suapan anakmu, Bangsat keparat?”

SAHABATKU DIHUKUM MATI


Surabaya, 21 April 2000

Sahabatku dicari petugas keamanan gara-gara menolong membalut luka seutas bromocorah dan segelas air diteguk sejuk.
Sahabatku dikejar petugas keamanan dengan bertuduh menggoyah stabilitas sosial membahaya keamanan. melindungi buron membantu pelarian.
Sahabatku diburon petugas keamanan hanya karena mengamal sila 2 butir 2.

Lantas muncul di pengumuman media cetak pamflet baliho selebaran koran majalah tabloid pun serta elektronik tivi radio internet, berkata,
”BARANG SIAPA DAPAT MENANGKAP HIDUP AKAN MENDAPAT HADIAH DARI PEMERINTAH BERKUASA SEBESAR LIMA PULUH TUJUH RIBU RUPIAH. DAN BARANG SIAPA YANG JELAS-JELAS MELINDUNGI SEPAK TERJANGNYA AKAN DIHUKUM RAJAM.”

Hatiku hancur remuk berlumur lumpur berpeluh darah beranyir sengau aroma air mata perih di nurani serasa mati mendengar baca woro-woro di sana.

Aku melihat berkepala mata hatiku sendiri Sahabatku ditangkap di leher diikat rantai, di tangan diikat rami, di kaki diikat sling ditarik paksa petugas keamanan seraya dicaci cemooh dihujam hujatan ludah memandi di muka Sahabatku.
Dia tersenyum manis.

Popor senapan menyarang bertubi di muka Sahabatku darah segar bercamspur luruh keringat menyeka muka dari ujung kepala pelipis dan ekor mata.
Ketika terjatuh tangan jemari diinjak sepatu boot para petugas keamanan beserta umpatan tak ketinggalan teriak kutukan di persisi telinga Sahabatku.
Dia tersenyum manis.

Aku hanya terdiam dapat cuma terpekur hening bertetes air mata menyaksi Sahabatku didera. Tak berani ak umenolong dan berteriak, ”ini Sahabatku!” karena ancama hukuman rajam dari penguasa.
Aku hanya terdiam malu.
Aku hanya berhening di hati menjerit meronta.
Aku hanya tertunduk tak berani menatap wajahku sendiri.
Aku hanya bisa nista berhampa.
Sahabatku hanya diharga sepeser untuk dihukum mati hanya karena mengamal cinta.
Sahabatku tetap tersenyum pada para penyiksa

Saat nyawa lepas,
Sahabatku tetap tersenyum manis


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com