Senin, 16 Februari 2009

SEGENGGAM MELATI



Surabaya, 4 Februari 2009

Ini malam ingatkan bertahun ayah bunda menikah.
Kami yang masih segelintiran ingin juga sekali berikan kado meski mungil saja.
Aku dan adik rencana mulai pagi siang sehingga malam mau sebentar sajalah.

Ini segenggam rencana dan beberapa lembaran rupiah
sudah sejak beberapa lama lalu kami siap-siapkan.
Tentunya untuk pesta sedikit malam ini makan agak sesuatu yang spesial.

Bunda bilang agar selalu hati-hati di jalan
ayah pula bawakan payung buat halau hujan
karena ini mendung sudah berteriak meraung hingar.
Gemawan gelap hampir menjejak ke bumi.
Sesekali kilat melesat terang sekaligus erangan garangnya.

Kami berpelukan erat sepanjang di perjalanan ke bakul martabak.
Di sana ternyatanya sudah berjajar-deretan mengular pembeli dari semua penjuru.
Ini bakul sangat pintar aku pikir membuat bumbu dan menggoreng martabaknya.
Sehingga rasa cinta tanah air bisa mungkin kalah sama rasanya.

Hitam di awan semakin menyalak gelegar hasrat mengintimi bumi.
Angin kencang terus memacu pepohon menari jingkrak
dinginnya ngilu di gigi dan lutut,
terutama bagi seumuran kami yang anak masih.
Sesekali mendung meludahi penduduk.

Tiba giliran kami,
Gerimis sudah semakin garang
ia berganti sosok dan wujudnya makin menyeramkan.
Beberapa terop warung beterbangan menyusul awan,
kebasahan melanda yang membuat kepanikan dasyat.

Payung yang di kami hampir diterpanya,
jika kubuka terus terbalik akan dan pastinya rusak.
Kututup sajalah biar sedikit basah tak apa

Selesai juga pesanan kami
Martabak 2 lembar,
masing seribu
masing 4 irisan
biarlah agak makannya puas,
seorang 2

Ditemani badai
Ini kami langsung melesat ke rumah pulang.
Apa daya kaki kecil tubuh mungil
Tak bisa menghindar hempas air cipratan kendaraan
Tiada mungkin mengelak kubangan,
terperosok masuk berdua kehilangan sandal
kaki lecet tangan luka di sana-sini

Untung saja cukup cekatan menyelamat martabak
Tak sampai jatuh
Tanpa basah
Bajulah kuyup, badan pastipun basah

Ini sudah di depan pintu rumah
Itu ayah bunda kami menyambut pelukan
pada kedua kami
galau mereka tersurat perih air mukanya kalut
guncang bahagia karena kami masih hidup rupanya

Bunda ayah mengheran pada apa kami bawa
Tubuh adik masih menggigil
rambutnya lautan air hujan
senyum kami menyingkap
menghaturkan martabak.

Bulir air itu mengerling dari mata wajah ayah dan bunda
Bangganya dan haru memeluk
Menciumi kami berdua
hangatkan basah hujan
musnahkan neraka jahanam
gelegar pesona ayah merasuk jiwa kami
selimut cintanya bunda seperti diang pada hati

ini dari kami kado nikah
ayah dan bunda
martabak untuk pesta


(puisi ini adalah hasil rekonstruksi puisi yang pernah hilang karena kerusakan harddisk computerku. Hasilnya memang tidak sebagus aslinya, tapi cukup mampu mengobati sakit hatiku selama beberapa tahun ini)

Rabu, 04 Februari 2009

SEPATU HITAM BERTALI PUTIH SOL PUTIH BERKOMBINASI BIRU MUDA MENYALA II



Surabaya, 5 Februari 2001

Tersirat berpuluh tahun bermesra dengan sepatu favoritku.
Ditanam sejuta puluhan memori sedari itu.
Terik hujan debu peluh basah mengering menyerap kuat
di tiap helai rajutannya.

Bersama kam melalui kebersulitan di hidup pun
ketersenangan manis nafas memuja serat di hidup.

Nian wujudnya tak lagi cantik.
Legam motifnya kini berpudar,
seputih tanah talinya merantas digelayut virus jaman.
Elok mulus solnya megap-megap menyerap genangan
menaik dalam sepatu,
putih bersih lagi tidak.
Sejelas mata memandang,
di ujungnya yang sebelah kanan terberkas lubang menganga.

Semuanya orang bertutur agara sesegera
menelantarkan dia beralih yang lebih kini.
Rayu bergelora menghujani tiap malam nun menggelinjang birahi digoda
pun bujuk beraroma menggelombang di tiap lagu hari-hari.

Kutelah mengikat janji berpatah arang sejiwa nyawa bertaruh.

Aku cinta kamu

Senin, 02 Februari 2009

SEPATU HITAM BERTALI PUTIH SOL PUTIH BERKOMBINASI BIRU MUDA MENYALA I

Surabaya, 4 Februari 2001

Sudah sekian tahun terdiam sepatu hitam bertali putih sol putih
berkombinasi biru muda menyala itu.
Di ufuk etalase toko megah itu aku berjongkok.
Seakan melambai minta dihampiri.

Tak ayal harus dipaksa kerja untuk cari uang
guna berupaya agar termilikilah sepatu pujaanku.

Aku ijabkan niatku bekerja di menguli bangunan menjadikan sebuah rumah
di kota sebrang dekat taman kota yang agak rindang.
Dan terkabul aku sebagai salah satu dari dua puluh kuli bangunan.

Tanpa sesal dan kesal aku mengucur peluh periang.
Kira-kira dua tahun baru selesai pembangunan rumah karena terhambat
mahalnya material bahan baku membuat rumah.
Nikmatnya tiada tara ketika kukantong honor terakhir, karena
yang satu ini berlampir bonus pak mandor ditegalkan kerjaku baik dan rapi.

Bergegas kupulang memacu laju kaki ke toko sepatu.
Mak!
Harganya naik! Uangku kurang! Aku bengong bingung.
Toleh kiri kanan bak ayam mabuk arak.
Lantas kularikan tubuh ini ke rumah paklik berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
paklik sedang pergi, dan bulik tak kuasa pinjammi uang.

Lantas kularikan tubuh ini ke rumah pakde berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
pakde sedang sakit dan seluruh bea konsentrasi pada pakde.

Lantas kularikan tubuh ini ke rumah pak RT berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
pak RT merenungi nasib diri diPHK. Tak etis kalau pinjam uang.

Lantas kularikan tubuh ini ke rumah pak guru berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Di rumah,
pak guru telah saja membeli sepeda baru, jadi uangnya agak sat.

Agak asa hampir putus
kularikan tubuh ini ke rumah adik berguna cari pinjaman
barang dua ribu saja.
Girang rianya adik punya, bersedia merela dipinjam barang
dua ribu saja.

Terakhir kali aku menyeribu langkah ke toko sepatu.
Tak pelak tiada terkira rianya
saat sukses tergenggam
sepatu hitam bertali putih, sol putih berkombinasi biru muda menyala.


Robin Moyer pada 1982 memotret beberapa jenazah pengungsi Palestina yang dibantai di Beirut, Lebanon.
jika hati bergetar,
andai darah mendidih,
rangkai kata kunanti
pada puisilombok@gmail.com